13.10.08

MANUSIA PENJELMAAN KUMILIGI

Dalam teks berbentuk prasi (lontar bergambar) yang berjudul Dampati Lalangon (kesenangan suami-istri/bulan madu), dilukiskan bahwa mereka yang mengejar kepuasan seks belaka, meskipun telah terikat dalam suatu pernikahan, memiliki risiko melahirkan anak penjelmaan dari Sang Kumiligi. Kumiligi adalah roh-roh tingkat rendah yang berada di “bawah” alam manusia, kumiligi dialamnya berebut “naik” untuk bisa menjelma menjadi manusia guna menebus papa kelahirannya itu.

Dalam hukum penyempurnaan semesta, mahluk dalam tingkatan rendah akan berusaha untuk menjadi lebih sempurna, “kumiligi berusaha menjadi manusia demikian juga manusia, berusaha untuk menjadi Dewa dan Dewa berusaha untuk menyatu dengan “Brahman”.

Dalam usaha si kumiligi untuk menjadi manusia, Dewa menganugerahkan kepada mereka kesempatan menjadi manusia. Kesempatan ini akan datang apabila manusia dalam melakukan hubungan seksnya, lepas dari rambu rambu dharma dan arahan dari teks-teks Kama Tattwa.

Pasangan yang lepas dari dharma dan menganggap pelajaran seks Kama Tattwa tidak perlu untuk dipelajari dan ditauladani adalah kesempatan baik bagi si Kumiligi untuk lahir menjadi manusia, sebab mereka-mereka yang lepas dari jangkauan dharma dan tidak tahu manfaat teks Kama Tattwa, memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melakukan seks “buta” (dalam artian seks yang hanya mengejar kenikmatan belaka) dan mereka yang memahami Kama Tattwa.

Kehamilan di luar nikah merupakan kesempatan utama dan penjelmaan Kumiligi, demikian juga dengan hubungan yang dilakukan di tempat tidak layak yang akhirnya menyebabkan kehamilan.

Panca Kumiligi adalah lima macam roh tingkat rendah, diantaranya I Nguntang, I Nganting, I Bongol, I Tundik dan I Ngulaleng. I Nguntang disimbolkan dengan perwujudan tangan manusia, I Nganting dengan simbol kaki, I Bongol dengan tubuh tanpa kepala, I Tundik dengan wujud Bhuta dengan posisi tangan menunjuk, dan I Ngulaleng diwujudkan sebagai Bhuta Sungsang/ terbalik.

Jika I Nguntang dan I Nganting yang menjelma, dicirikan dengan anak yang apabila marah justru menyiksa diri sendiri; jika I Bongol yang menjelma maka anak tidak pernah menghiraukan larangan orang tua dan nasehat yang diberikan dianggap “angin lalu”; jika I Tundik yang menjelma si anak sering minta sesuatu (uang/benda) pada orang yang bertamu ke rumahnya, ciri parah dan penjelmaan I Tundik, si anak memiliki sifat suka mencuri; sedangkan jika I Ngulaleng yang menjelma, anak sering berlari keluar rumah/ke jalan dan jika sudah agak besar si anak lupa segalanya kalau sudah bermain, (lupa makan, lupa pulang dll).

Kesempatan lain bagi Kumiligi bisa menjelma menjadi manusia apabila ada pasangan manusia melakukan hubungan seks di luar norma, seperti misalnya seks di lapangan umum; di bawah pohon angker, di pinggir pantai dekat Pura, di sungai yang disucikan, dapur, tempat permandian, kandang sapi/babi, atau tempat tempat yang dianggap di luar kelayakan. Jika diaktualisasikan dengan kondisi sekarang: seks di kolam renang umum, lapangan umum, dapur, gudang, di lapangan umum, mobil, di atas kapal umum, WC, “seks satu dua”, “satu tiga” dan segala jenis hubungan seks yang dilakukan pada tempat-tempat diluar kelayakan dan etika.

Demikian juga kelahiran anak yang disebabkan oleh perselingkuhan, hamil luar nikah, pemerkosaan, kehamilan yang disebabkan oleh lebih dari satu lelaki, kehamilan yang tidak diketahui siapa yang membuahi, anak dan wanita tuna susila, wanita nakal, gigolo, lelaki play boy, kelahiran anak saat pasangannya terlibat perselingkuhan dengan PIL/WIL, dll; semua itu merupakan kesempatan “emas” bagi si Panca Kumiligi untuk menjeima menjadi manusia.

Disadur dari Buku Sex Ala Bali Terbitan Baliaga 2006