14.10.08

Windu sebagai Gerbang Samaralaya

“Ana ta windu ring jro wiji, gunung nia kapagut dening pucukning karalu” .
Ada titik bulat dibelahan dalam vagina, itulah yang disentuh oleh ujung penis.

Dalam Teks Samarakridalaksana, G-spot diistilahkan dengan windu. Windu ini terletak di belahan dalam lobang vagina dan bagi para suami yang perduli seks, windu inilah yang seharusnya dicari dan disentuh oleh ujung penis (karalu) guna pencapaian orgasme vaginal (murca) bagi istri.
Sama seperti penjelasan teks Rahasya Sanggama dan Resi Sambina, Samarakridalaksana juga menunjuk dengan tegas “zona” erektil wanita dalam liang vagina sebagai salah satu organ seks terpenting bagi orgasme istri. “Titik” erektil yang oleh Grafenberg Ernest diistilahkan dengan G-spot, dalam Smarakridalaksana diulas dengan cermat, bahkan penggambaran dan sensasi seks yang akan didapat oleh istri berkat usaha suami merangsang organ seks tersebut (windu/G-s pot) dipaparkan dengan jelas, adapun kutipannya berikut:
“Yan kumeter sarwa sandinia, man ggeh ya mangupia (mangu = terpekur), man glih, sisigen, yan wus mangkana aywa maswe dening aningali caya, dunungen jiwaning stri ring cakralingga, aywa sim pang denarasa patia, katemu pranalingga, ika swarga sakala, murca kang stri.Risamangkana man gdadia ngipi mareng smaralaya, apan kasinetan tamanira Sang Hyang Asmara, Taladwaja ngaran, tuhu cakreng buwana, man gkana ulahning Smaralaksana”.

Jika sudah bergetar persendian istri, terlihat dia menikmati sensasinya, kemudian mengaduh-aduh, mendesis-desis, tersedu, jika sudah seperti itu jangan terlalu lama untuk memandang cahaya, bawa jiwa si istri pada cakra kemaluan, jangan sampai menyimpang, akan ketemu pranalingga itu, inilah sorga sakala, hilang kesadarannya.

Di saat seperti ini, ia seakan bermimpi berada di alam sorga milik Dewa Asmara (samaralaya), tubuhnya dirasuki dan akhirnya kesurupan asmara, inilah Taladwaja, ia yang mengetahui perputaran bumi, seperti itulah teknik Smarakridalaksana.

Di sini dinyatakan bahwa mereka (para suami) yang telah memahami kama tattwa (samarakridalaksana) dan telah fasih letak-letak sensasi seks istrinya, akan mampu mengantar Si istri memasuki alam sorga sakala atau sorga di dunia. Alam ini juga diistilahkan sebagai pranalingga yang letaknya di cakra kemaluan (sekitar cakra svadistana).
Kondisi ini berpijak dari mulainya istri merasakan sensasi-sensasi berkat sentuhan pada daerah windu/ G-spot, jika istri telah mendesis-desis, mengaduh, tersedu lantaran nikmatnya, hendaknya suami membawa cahaya yang terlihat kala senggama masuk menuju cakra kemaluan (penis), jika teknik ini berhasil dengan sempurna, dimana pranalingga terlihat oleh istri, maka puncak kenikmatan yang didapat oleh istri akan terasa berbeda dan orgasme umumnya (klitoral).


Orgasme ini digambarkan oleh Samarakridalaksana sebagai samaralaya atau alam sorga asmara, istri yang diberikan sensasi seks secara Samarakridalaksana ini akan menemukan rasa nikmat yang sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata. Istri bagaikan orang kesurupan asmara dan untuk sesaat ia kehilangan kesadarannya, ia terserap memasuki alam Pranalingga, Samaralaya dan kerasukan Taladwaja. Inilah sensasi kenikmatan seks yang ditawarkan oleh Samarakridalaksana, bagi mereka-mereka yang telah terikat hubungan suami istri yang suci.

Disadur dari Buku Seks Ala Bali Terbitan Baliaga 2006