9.12.08

18 KOMPLEK PURA YANG ADA DI PURA AGUNG BESAKIH

1. Pura Pesimpangan

Terletak di Desa Kedungdung, di tengah ladang, kurang lebih berjarak 1,5 km dari Pura Penataran Agung. Pura ini hanya terdiri dari sebuah bangunan kecil yang tidak memakai tembok keliling, dengan pintu masuk dari arah Selatan. Fungsinya sebagai tempat persinggahan sementara (pesimpangan) pada waktu Ida Bhatara (manifestasi Tuhan) melelasti (perjalanan mencari air suci) setiap tahunnya ke Toya Sah, Tegal Suca atau ke Klotok. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Selasa, Umanis, wuku Julungwangi.

2. Pura Dalem Puri

Pura ini berjarak 1 km di sebelah Barat Daya dari Pura Penataran Agung (di sebelah kiri jalan yang menuju Pura Penataran Agung) sebagai stana Dewi Uma dan dalam wujud Beliau mengadili dosa dan jasa manusia dengan wujud sebagai Dewi Durgha. Sehingga pura ini banyak dikunjungi oleh umat Hindu di seluruh Bali, khususnya dari daerah Klungkung dan Karangasem untuk memendak (menjemput) Sang Hyang Pitara (leluhur) setelah disucikan telebih dahulu (melalui upacara Ngaben dan Mamukur). Di sebelah Utara pura ini terdapat "Tegal Penangsaran" tempat para roh orang yang meninggal di alam sana yang belum dipendak oleh keluarganya untuk ditempatkan di Sanggahnya masing-masing. Ida Bhatara di Pura ini bersifat sebagai pradana (aspek wanita) sedangkan Bhatara di Penataran Agung bersifat Purusa (aspek laki-laki).
Di luar tembok sebelah Utara jalan keluar terdapat pelinggih Prajapati sebagai sthana dari Sanghyang Prajapati yang menguasai seluruh roh manusia. Menurut lontar Sri Jayakesunu, di Pura Dalem Puri inilah Sri Jayakesunu mendapat enugerah sehingga berumur panjang menjadi raja serta rakyatnya aman dan tentram.

Setiap penanggalan ganjil nemu Kajeng sasih Kapitu (sekitar bulan Januari) diadakan upacara Ngusaba Gede di pura ini. Biasanya upacara ini diselenggarakan oleh masyarakat Desa Besakih. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Rabu, Kliwon, wuku Ugu.

3. Pura Manik Mas

Pura ini terletak di sebelah kiri jalan menuju Pura Penataran Agung dalam jarak 750 m. Bangunan utama dalam pura ini adalah Gedong Simpen sebagai sthana Ida Ratu Mas Melilit. Beliau adalah lambang Bedawang Nala dasarnya bumi, yang merupakan dasar dari Pura Besakih, sehingga pada zaman dahulu orang yang berkuda meewati pura ini harus turun dari kudanya. Fungsi pura ini adalah sebagai tempat persembahyangan pendahuluan, sebelum ke Penataran Agung. Dalam mitologi Mayadenawa, di pura inilah Patih Kalawong menghadang dan melarang orang yang mau bersembahyang ke Pura Besakih. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Sabtu, Kliwon, wuku Wariga atau bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Uduh.

4. Pura Bangun Sakti

Pura Bangun Sakti terletak di sebelah kanan jalan menuju Pura Penataran Agung, sebagai sthana dari Sanghyang Anantabhoga. Beliau adalah lambang dari kulit bumi, sumber hidup dan tumbuhnya sandang pangan serta perlengkapan lainnya. "Ananta" artinya tidak habis-habisnya, dan "bhoga" artinya pangan, "upabhoga" artinya sandang serta "paribhoga" artinya perlengkapan. Jadi Pura Bangun Sakti memiliki arti kekuatan hidup.
Menurut pemancangan Manik Angkeran dikatakan bahwa di sinilah abu Manik Angkeran oleh ayah beliau, Empu Sidhimantera dan memohon kepada Sanghyang Naga Basuki sehingga putranya bisa hidup kembali. Diceritakan bahwa Manik Angkeran menginginkan permata yang ada di ekor naga Sanghyang Basuki lalu memotong ekor naga tersebut. Hal ini membuat marah Naga Basuki dan membakar Manik Angkeran menjadi abu. Selain itu pura ini juga memiliki fungsi sebagai tempat untuk memohon keselamatan terhadap tumbuhan dan binatang. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Rabu, Pon, wuku Watugunung, sedangkan upacara Pangangon dan Ngusaba Posya jatuh pada hari Tilem sasih Kaenem (sekitar bulan Desember).

5. Pura Ulun Kulkul

Pura ini letaknya sekitar 350 m di sebelah kiri dari jalan menuju Penataran Agung. Nama "Ulun Kulkul" ada hubungannya dengan adanya Kulkul (kentongan) di pura ini. Bangunan utama dalam pura ini adalah pelinggih Gedong Sari sebagai sthana Dewa Mahadewa. Pelinggih Ulun Kulkul merupakan salah satu dari pelinggih Catur Loka Pala, manifestasi kekuatan Tuhan yang mengusai "Sarwa Mule" yaitu barang-barang berharga seperti emas, perak dan sebagainya. Warna perhiasan di pura ini pada waktu upacara adalah kain serba kuning. Bagi masyarakat Besakih, pura ini berfungsi sebagi tempat melakukan penyumpahan bagi siapa saja yang dituduh melakukan pencurian, perbuatan tidak senonoh dan sebagainya.

Setiap Tilem (bulan mati) sasih Katiga (sekitar bulan September) diadakan upacara Pangurip Gumi di pura ini. Biasanya upacara ini diselenggarakan oleh Kabupaten Gianyar di bawah bimbingan Prawartaka. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Sabtu, Kliwon, wuku Kuningan atau bertepatan dengan Hari Raya Kuningan. Sedangkan upacara Aci Sarin Tahun jatuh pada hari Tilem (bulan mati) sasih Kawolu (sekitar bulan Pebruari).

6. Pura Merajan Selonding

Pura Merajan Selonding terletak di sebelah kiri jalan sekitar 150 m dari Pura Penataran Agung. Kata "Merajan" berarti persembahyangan sehari-hari dari suatu keluarga, mengingatkan kita pada istana Sri Wira Dalem Kesari dengan merajannya. Pada saat itu pura ini dihormati sebagai tempat penyimpanan "Selonding" yaitu sejenis perangkat gamelan gong yang bahannya terbuat dari perunggu. Saat ini jenis gamelan ini hampir punah, hanya tinggal beberapa di daerah Karangasem. Di pura ini juga disimpan salinan prasasti yang telah memakai huruf Bali biasa dengan dasar tembaga dengan angka tahun 929. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Kamis, Kliwon, wuku Warigadian.

7. Pura Gua

Pura ini terletak di sebelah kanan jalan, berhadapan dengan Pura Merajan Selonding. Di pura ini memang terdapat gua yang besar namun banyak bagiannya yang telah runtuh akibat gempa bumi. Menurut kepercayaan masyarakat jaman dahulu, gua ini bisa tembus ke Pura Gua Lawah (gua yang dipenuhi dengan kelelawar. Dalam Babad Mengwi ada disebutkan seorang turunan Raja Mengwi yang bernama Anak Agung Ketut Busakih yang pernah melewati gua ini. Kepercayaan masyarakat setempat menyebutkan bahwa gua ini adalah goanya Sanghyang Naga Basuki. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Rabu, Wage, wuku Kelawu yang sering disebut dengan Buda Cemeng Kelawu.

8. Pura Banua

Pura ini terletak di sebelah kanan jalan di hadapan Pura Basukian, sekitar 50 m dari Penataran Agung. Kata "Banua" dalam bahasa Bali kuno berarti desa tau daratan, dan pura ini adalah tempat untuk mengadakan pertemuan para warga dalam memutuskan hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan desa dan pura. Pura ini berfungsi sebagai thana Dewi Sri yaitu manifestasi Tuhan sebagai penguasa hasil pertanian. Maka setiap sasih kepitu ( sekitar bulan januari) diadakanlah upacara Ngusaba Ngeed dan Ngusaba Buluh yang bertujuan untuk memohon kemakmuran di sawah dan ladang. Pada zaman dulu di pura ini juga terdapat lumbung, namun sekarang sudah tak ada lagi. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Sabtu, Umanis, wuku Kelawu.

9. Pura Merajan Kanginan

Pura ini terletak di sebelah Timur Pura Banua. Pura ini disebut "Merajan" karena pada zaman dulu tempat ini merupakan tempat tinggal Ida Manik Angkeran yang mengatur dan memelihara Pura Besakih. Di sana juga terdapat pelinggih untuk menghormati Empu Bharadah.

10. Pura Hyang Haluh

Pura in iterletak sekitar 200 m di sebelah Barat Pura Penataran Agung, yang oleh masyarakat setempat sering disebut dengan Pura Janggala. Kata "Janggala" ada hubungannya dengan hutan, dimana pada zaman dahulu daerah ini masih merupakan hutan. satu hal yang menarik, di pura ini terdapat patung-patung kuno yang kemungkinan berasal dari abad XIII atau XIV, berupa arca Garuda dan arca seorang pendeta. Tempat ini digunakan oleh masyarakat setempat untuk melakukan upacara Pitra Yadnya, karena merupakan Dalem Setra-nya desa Besakih.

11. Pura Basukian

Pura ini terletak di sebelah kanan tangga naik menuju Penataran Agung. Masyarak desa Besakih menyebut pura ini sebagai Pura Desa. Bangunan utamanya terdapat meru tumpang 7 (bangunan suci yang atapnya bertingkat 7). Di halaman pura biasa digunakan oleh masyarakat desa Besakih untuk mengadakan upacara Ngerorasin/Mamukur/Nyepi sebagai rangkaian dari upacara Ngaben. Hal ini merupakan suatu keistimewaan yaitu hanya di sini upacara Mamukur dilakukan di jaba tengah suatu pura. Juga terdapat pelinggih Dadya (klan) Pasek Dangka di jaba tengah (halaman tengah). Di pura ini terdapat 9 buah bangunan suci. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Rabu, Wage, wuku Kelawu.

12. Pura Kiduling Kreteg

Sesuai dengan namanya, Kiduling Kreteg artinya 'di sebelah Selatan Jembatan', maka pura ini adalah sthana Dewa Brahma (manifestasi Tuhan sebagai pencipta alam semesta dan penguasa mata angin arah Selatan). Pura ini terletak sekitar 150 m sebelah Selatan Pura Penataran Agung. Pelinggih Kiduling Kreteg merupakan impunan kekuatan pertiwi (tanah) dimana semua mahluk tercipta dari sari bumi ini. Keseluruhan pelinggih (bangunan suci) di komplek pura ini berjumlah 21 buah. Warna hiasan di pura ini adalah serba merah.

Setiap bulan Purnama sasih Kaenem (sekitar bulan Desember) diadakan upacara Penyaeb Brahma di pura ini. Biasanya upacara ini diselenggarakan oleh Kabupaten Karangasem dibawah bimbingan Prawartaka. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Selasa, Wage, wuku Dungulan atau bertepatan dengan Hari Penampahan Galungan. Sedangkan upacara Aci Panyeheb jatuh pada hari Purnama sasih Kaenem (sekitar bulan Desember).

13. Pura Batu Madeg

Pura ini terletak sekitar 150 m di sebelah Utara Pura Penataran Agung. Pura ini sebagai sthana Dewa Wisnu, manifestasi Tuhan seagai pemelihara alam semesta dan penguasa arah Utara. Warna hiasan di pura ini adalah serba hitam. Pra in sebagai penguasa sari-sarinya air. Peninggalan perbakala yang bisa kita jumpai di pura ini adalah sebuah Lingga batu (seperti silinder berujung bulat) yang terletak di tengah-tengah pura. Pada zaman dahulu, Lingga digunakan untuk memuja Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai penguasa kemakmuran. Seluruh pelinggih di pura ini berjumlah 29 buah.

Setiap Tilem (bulan mati) sasih Kalima (sekitar bulan Nopember) diadakan upacara Penayuhang Bayu di pura ini. Biasanya upacara ini diselenggarakan oleh Kabupaten Bangli dibawah bimbingan Prawartaka. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Senin, Umanis, wuku Tolu. Sedangkan upacara Ngusaba Wargasiram jatuh pada pananggal ke 5 sasih Kalima (sekitar bulan Nopember).

14. Pura Gelap

Pura ini terletak di sebelah Timur Laut ( ke arah Gunung Agung ) sejauh 350 m dari Pura Penataran Agung. Pura ini adalah sthana Dewa Iswara, manifestasi Tuhan sebagai penguasa kesucian dan kependetaan. Warna hiasan di pura ini adalah seba putih dan hanya terdapat 9 buah bangunan suci. Pura ini merupakan salah satu dari Catur Loka Pala, manifestasi Tuhan yang menguasai arah Timur. Pura ini sering digunakan oleh para pendeta untuk melakukan meditasi, tempatnya tenang dan sunyi.

Setiap bulan purnama sasih Karo (sekitar bulan Agustus) diadakan upacara Pangenteg Jagat di pura ini. Biasanya upacara ini diselenggarakan oleh Kabupaten Klungkung. Upacara piodalannya jatuh pada hari Senin, Kliwon, wuku Wariga.

15. Pura Penataran Agung

Komplek pura ini adalah yang terbesar di Besakih dengan 53 buah bangunan suci. Fungsi umum pura ini adalah sebagai sthana Dewa Siwa (Siwa Tiga) sebagai poros dari pura-pura lainnya sebagai penguasa dari Tri Bhuwana (tiga lapisan alam) yaitu alam bawah (bhur loka), alam tengah (bhwah loka), dan alam atas (swah loka). Pura ini sebagai penguasa sari-sarinya kekuatan udara dan akasa.
Komplek ini terdiri atas 7 lapisan yaitu :

Jika kita menaiki tangga yang jumlahnya 51 buah, akan menuju komplek utama Pura Penataran Agung, di sebelah menyebelah tangga terdapat sederatan patung tokoh pewangan. Patung-patung yang ada di sebelah kiri dari cerita Mahabharata, sedangkan yang di sebelah kanan dari cerita Ramayana. . Di depan candi Bentar (pintu gerbang yang terbelah dua) dihiasi patung Dwarapala (penjaga pintu) yang dibuat tahun 1935 oleh seniman dari Sukawati yang dipimpin oleh I Kolok. Di depan candi Bentar terdapat Bale Pegat sebagai tempat untuk memohon tirtha penyucian (pengerapuan) bagi mereka yang akan masuk pura. Bale Pegat menyimbulkan pemutusan hubungan dengan dunia lahiriah akan menginjak dunia kahyangan. Pada dasar bale terdapat tulisan

Bali "Pancawalikrama 1960" dan "Eka Dasa Rudra 1963". Di sudut kiri kanan terdapat bale kulkul (balai kentongan) serta bale Pegambuhan (tempat gamelan gong) dan pertunjukkan waktu upacara Sebelum mencapai Kuri Agung (gerbang utama) ada 2 buah bale Ongkara/Bale Mundar (balai beratap bundar yang bertiang satu) di sisi kanan dan kiri.
Lapisan kedua adalah tempat upacara utama. Terdapat Padma Tiga sebagai sthana Sanghyang Tri Purusa yaitu Dewa Siwa dalam perwujudan beliaua sebagai Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa. Bangunan ini beberapa waktu yang lalu telah direnovasi. Pada dasar Padma Tiga terdapat candrasangkala berangka tahun 1967 M, yaitu waktu pemugaran pelinggih ini. Di belakang terdapat Bale Pesamuhan sebagai sthana pratima dan pralingga waktu upacara Bhatara Turun Kabeh. Di sebelah kiri terdapat Bale Panjang atau Bale Agung yang bertian 24, sebagai stana Dewa Iswara diiringi widyadara dan widyadari yang mengjarkan berbagai keahlian kepada manusia. Bangunan utama lainnya adalah pelinggih Ratu Mas Manik sebagai simbul penguasa dari pengerahan tenaga), pelinggih Ratu Kubakal (pengusa bahan-bahan untuk upacara), pelinggih Ratu Mas Sila Majemuh (manifestasi Tuhan sebagai penguasa cuaca).

Di lapisan ketiga terdapat 16 uah bangunan yang merupakan pelinggih dari tokoh-tokoh yang berjasa dalam agama dan pemerintahan, antara lain Bhatari Gayatri (neneknya Hayam Wuruk), Danghyang Nirartha (leluhurnya para Brahmana Siwa), dan lain-lain.
Di lapisan ke empat terdapat 10 buah bangunan. Bangunan utamanya adalah pelinggih Ratu Sunaring Jagat (sebagai simbul sinar-sinar kekuatan Tuhan). Yang menarik adalah terdpat juga patung Bodisatwa (Budha) yang dikenal dengan pelinggih Ratu Sanghyang Surya Candra atau Siwa Budha. Ada pelinggih Ratu Ulan Alu, sebagai manifestasi Tuhan yang mengusai perdagangan di daratan, pelinggih Ratu Subandar, manistasi Tuhan yang menguasai perdagangan antar pulau.
Di lapisan ke lima terdapat 4 buah bangunan. Ada pelinggih Ratu Sanghyang Wisesa (penguasa dari energi kekuatan-kekuatan spiritual) dan pelinggih Ida Ratu Ayu Magelung. Lapisan ini merupakan simbul kekuasaan Tuhan yang dipancarkan ke dunia.

Di lapisan ke enam terdapat pelinggih Ida Ratu Kiwa dan Ratu Pucak Tengen, atau sering disebut dengan Ratu Bukit Kiwa (kiri) dan Ratu Bukit Tengen (kanan). Kedua pelinggih tersebut merupakan lambang Rwa Bhinedha (dua hal yang berbeda di dunia ini).
Lapisan ke tujuh, atau lapisan teratas yang terakhir, merupakan lapisan yang kosong tanpa ada pelinggih, sebagai simbul keadaan sebelum terciptanya dunia ini.
Jika kita lihat ketujuh lapisan ini menceritakan sejarah terciptanya alam dan dunia. Lapisan ke-7 melambangkan keadaan sebelum terciptanya dunia. Lapisan ke-6 melambangkan penciptaan dua zat yang bersifat lahiriah dan jasmaniah yang bersifat positif dan negatif. Lapisan ke-5 menceritakan keadaan sesudah pertemuan zat negatif dan positif yang menimbulkan energi atau kekuatan. Lapisan ke-4 menceritakan bahwa kekuatan-kekuatan itu telah memancarkan sinar Tuhan yang berbentuk segala jenis pengetahuan yang bersifat niskala (gaib). Lapisan ke-3 menceritakan bahwa sinar Tuhan tersebut telah didukung oleh tokoh-tokoh maharesi, orang-orang ahli dan berjasa yang pernah lahir dan hidup di dunia. Lapisan ke-2 melambangkan tempat bertemunya bhaktinya umat dengan kasih sayang Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan. Hampir semua upacara dilaksanakan di lapisan ini. Lapisan ke-1 merupakan lapisan dimana umat yang akan menghadap Tuhan melakukan penyucian diri dan memutuskan ikatan-ikatan duniawi.

Pada bulan purnama sasih Kedasa (sekitar bulan Maret/April) diselenggarakan upacara Bhatara Turun Kabeh yaitu upacara yang terbesar dimana semua Bhatara di komplek Pura Besakih diupacarai di Penataran Agung. Seluruh umat Hindu berduyun-duyun ke sana untuk menunjukkan bhaktinya pada Tuhan, yang biasanya berlangsung (nyejer) sampai beberapa hari. Setiap 10 tahun sekali diadakan upacara Panca Wali Krama, dansetiap 100 tahun sekali diadakan upacara Ekadasa Ludra.

16. Pura Pengubengan

Pura ini terletak di kaki Gunung Agung, sekitar 1500 m dari Pura Penataran Agung. Fungsinya sebagai tempat untuk "ngayat/ngubeng" yaitu suatu upacara untuk mempermaklumkan kepada Tuhan bahwa di Pura Penataran Agung akandiadakan upacara. Di sini terdapat 6 buah pelinggih. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Rabu, Wage, wuku Kelawu.

17. Pura Tirtha

Pura ini terletak sekitar 250 m sebelah Timur Laut dari Pura Pengubengan, di tepi sebuah sungai kecil. Terdapat pelinggih Ida Bhatara Tirtha. Jika terdapat upacara di Pura Besakih maka di pura inilah umat memohon tirtha (air suci). Upacara piodalannya jatuh pada Hari Rabu, Wage, wuku Kelawu.

18. Pura Peninjoan

Pura ini berjarak sekitar 1 km di sebelah kanan Pura Penataran Agung. Dari pura ini seluruh komplek pura besakih dapat terlihat dengan jelas. Di pura ini terdapat 12 buah pelinggih. Dari tempat inilah Mpu Kuturan sebagai arsitek pura ini melakukan peninjauan untuk perluasan Pura Besakih. Upacara piodalannya jatuh pada Hari Kamis, Wage, wuku Tolu.

Secara keseluruhan, upacara piodalan yang berlangsung berdasarkan sistem Pawukon (datangnya setiap 210 hari sekali) terdapat pada 23 pelinggih, atau dalam setahun terdapat 46 kali upacara piodalan, tapi biasanya tidak terlalu besar. Sedangkan upacara yang berdasarkan pada perhitungan sasih/bulan (datangnya setiap setahun sekali) ada sejumlah 15 kali. Jadi secara keseluruhan terdapat 61 kali upacara, diantaranya terdapat 6 upacara yang besar.