19.12.08

Jejak Pendeta Budha di Cangi

Ajaran Budha sesungguhnya sempat menelisik ke berbagai pelosok desa di Bali. Terbukti dengan banyaknya tinggalan bernuansa Budha di tanah Bali yang hingga kini keberadaannya tetap dipelihara masyarakat sekitar.
Desir angin perlahan menyapu daun beringin rimbun di depan sebuah pura besar Dusun Cangi, Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di sebelahnya, pada areal lapangan nan luas, puluhan anak-anak terlihat asyik bermain bola.
Sibuk kejar-kejaran, saling pepet demi merebut si kulit bundar.
Di kawasan yang menjadi bagian dari Desa Pakraman Ganggangan Cangi itu, sore hari pada pertengahan Januari lalu suasananya memang tampak cerah. Anak-anak yang lagi asyik merumput di lapangan seakan tanpa beban. Tak mesti takut diguyur hujan.
Tak terlalu sulit menemukan lokasi dusun yang berada di antara Banjar Sakah dan Desa Kemenuh itu. Berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Denpasar dan bisa ditempuh melewati jalur jalan raya Denpasar – Gianyar. Begitu tiba di patung bayi Desa Sakah (pertigaan jalan raya Sukawati-Blahbatuh, Mas), Anda bisa mengambil jalur ke kanan. Setelah melewati jembatan kecil, maka akan bertemu pertigaan yang di depannya terpampang jelas tulisan Dusun Cangi. Melangkah sekitar 300 meter dari jalan utama, Anda akan bisa menemukan Dusun Cangi.
Merunut ke belakang tentang Dusun Cangi, sejatinya termasuk desa tua. “Wilayah yang sekarang menjadi Desa Pakraman Ganggangan Cangi, dulu berupa hutan belantara sekaligus sebagai kawasan pegunungan di ujung utara Sukawati,” Bandesa Pakraman Ganggangan Cangi, Made Ardana menerangkan.
Lelaki paruh baya ini kemudian mengutip isi prasasti Desa Batuan berangka tahun isaka 352, yang menyebutkan bahwa selain Batuan, ada dua desa di wilayah ini yakni Karaman Sakar dan Karaman Canggini. Karaman Sakar lamat-lamat berubah menjadi Sakah dan Canggini menjadi Cangi. Dalam perjalanannya, Karaman Sakar berkembang menjadi Banjar Blahtanah.
Blahtanah menurut Made Ardana berasal dari dua kata, belah berarti bagian dan tanah berarti wilayah. Blahtanah artinya kawasan atau wilayah yang menjadi bagian karaman Sakar (Sakah). Di samping Blahtanah, Cangi, dan Sakah, ada satu banjar lagi yang berada di kawasan Desa Pakraman Ganggangan Cangi, Banjar Dauma.
Prasasti Batuan memang ada menyebut-nyebut nama karaman Cangigini yang menjadi cikal awal Dusun Cangi. Dan, prasasti Batuan tentu bukan bukti tunggal. Berbagai tinggalan kuno yang tersebar di seantero Desa Pakraman Ganggangan Cangi juga dapat mempertegas, bahwa desa yang sebagain besar warganya berkutat di sektor pertanian dan perdagangan ini memang masuk kategori tua. Malah sempat menjadi tempat pertapaan para rohaniwan. Satu di antara peninggalan yang ada di kawasan Cangi berupa benda purbakala yang hingga kini terpelihara rapi di Pura Desa Ganggangan Cangi. Tinggalan purbakala dimaksud berupa Kacogatan Dangupadhyaya Sudar, puluhan patung batu padas, dan sebuah gapura menyerupai candi di beberapa tempat suci yang memiliki keterkaitan dengan perkembangan agama Budha di Bali, seperti di Pura Gunung Kawi, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Dalam Sejarah Singkat Desa Pakraman Ganggangan Cangi ada menyebutkan bahwa gapura dibangun pada abad XIV, kemudian dilengkapi palinggih menyesuaikan kepercayaan Hindu setelah masuknya Majapahit.

Masih menyangkut peninggalan purbakala di Cangi. Buku Sejarah Pembangunan Pura di Bali karangan Ktut Soebandi,---buku ini diterbitkan CV Kayumas Denpasar tahun 1983, yang salah satunya membahas Pura Cangi---, ada menegaskan, peninggalan di Pura Cangi berupa bekas Kacogatan Dangupadhyaya Sudar. Sedangkan dalam prasasti Desa Serai, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, berangka tahun isaka 915 (tahun 993 Masehi), diperjelas tentang kacogatan yang tiada lain dari rumah tempat berdiam (geriya) bagi para Pandita Budha. Dangupadhyaya gelar para Pandita Budha, dan Sudar adalah nama pendeta yang berdiam atau mondok di satu tempat. Jadi Kacogatan Dangupadhaya Sudar berarti geriya pendeta Budha bernama Sudar.
Bila ditelisik lebih dalam, terutama dari angka tahun pembuatan prasasti Desa Serai, bisa dipastikan prasasti itu dibikin saat pemerintahan Raja Gunapriya Dharmapatni dan Udayana Warmadewa di Bali.
Tentang Raja Gunapriya Dharmapatni dan Udayana Warmadewa, dalam Bhuwana Tatwa Maharsi Markandya ada disebutkan :
Mwahri pajenengan sira Sri Maharaja Sang ratu Udayana Warmadewa, isaka 915, sira sang Bhujangga Dyah Kuting ingadeg aken Senapati Kuturan, tumut umahayu bhuwana kabeh. Sira ta Ratu Sri Gunaprya sakeng Javadwipa pinaka putri de Sri Makuta wangsawardhana. Nguni sira Java ingaran Mahendradatta..........”.
Artinya :
Dan tatkala bertahtanya Sri Maharaja Sang Ratu Sri Gunaprya Dharmapatni bersama suaminya Sri Dharma Udayana Warmadewa, ketika tahun isaka 1915 atau tahun 933 Masehi, sang bujangga Dyah Kuting dinobatkan sebagai Senapati Kuturan, bersama-sama membangun sejahtera Negara. Sang Ratu Sri Gunapriya Dharmapatni berasal dari Jawa yaitu putri dari Sri Makutawangsawardhana. Ketika berada di tanah sang putri bernama Mahendradatta........
Kembali pada isi prasasti Desa Serai, selain menegaskan nama tempat pertapaan bagi Pendeta Budha, juga disebutkan nama rumah (geriya) bagi Pendeta Siwa dan para guru Agama Siwa (Dangacarya) yang dinamakan Kacaiwan.
Selain menyebutkan tentang pemerintahan Ratu Sri Gunapriya Dharmapatni, juga termuat nama-nama senapati yang bertugas di Bali saat itu, meliputi Kuturan Dyah Kuting, Pinatih Dyah Mahogra, Dalembunut Tuha Buncang, Wrasabha Tuha Pradana, Waranasi Tuha Tabu, dan Maniringin Tuha Tabu.
Prasasti Desa Serai juga memuat nama senapati yang bertugas di Bali saat itu dan mencantumkan sebutan para pejabat kerajaan yang berpangkat Samgat (singkatan dari Sang Pamgat), yakni para pejabat yang berwenang memutuskan dalam bidangnya masing-masing. Mereka ini adalah para menteri kerajaan yang memiliki gelar awal Tuha, yang berarti ketua atau yang dimuliakan.
Pejabat dimaksud terdiri dari Tuha Maranjaya Samgat, bertugas sebagai pengamat kehewanan, Tuha Naruh Samgat menangani urusan orang-orang yang tak memiliki anak (bahasa bali-bekung). Berikutnya ada Tuha Tangun Samgat Adhikara yang bertugas mengurus pura, Tuha Guna Samgat sebagai pengamat perbudakan, dan Tuha Ginangca Samgat memiliki fungsi sebagai pengamat pertapaan milik kerajaan.

Kembali ke Dangupadhaya Sudar dengan Kacogatan Canggini di Dusun Cangi yang menjadi geriya bagi Pendeta Budha. Kacogatan yang sesuai Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 5 tahun 1995, menjadi cagar budaya itu, kini tinggal bekas saja. Di sekitar tempat pertapaan telah terbangun tempat suci (pura) dinamakan Pura Desa dan Puseh Cangi. “Di lahan seluas satu hektar ini ada tiga palebaan (bagian) tempat suci,” tunjuk Ardana. Paling timur wilayah Pura Desa dan Puseh Cangi, di sisi utara palinggih arca tempat menyimpan peningglan arca batu padas, dan sisi barat bale agung serta bale pegat.
Pura ini diempon sekitar 600 KK, berasal dari empat banjar, meliputi Banjar Cangi, Sakah, Blahtanah, dan Dauma. Warga inilah yang bertanggungjawab penuh terhadap berbagai kegiatan pembangunan plus upacara yang dilakukan tiap enam bulan sekali, pada Buda Cemeng Langkir. Empat hari setelah hari Kuningan. Di Pura Desa Ganggangan Cangi ada tiga tingkatan upacara. Paling kecil menurut Made Karpu, Pamangku Pura Desa Ganggangan Cangi, pada tingkat pakoleman, enam bulan berikutnya digelar upacara bersaranakan babangkit. Lagi enam bulannya baru dilaksanakan upacara nyatur. ”Saat upacara nyatur, semua Ida Batara yang ada di wawengkon Desa Pakraman Ganggangan Cangi tedun (hadir) ke Pura Desa,” ingat Ardana.
Guna memudahkan penyelenggaraan upacara, pihak desa pakraman membagi warga menjadi dua bagian (tempek), disesuaikan dengan jumlah penduduk. Tempek Baleran (Utara) terdiri atas satu banjar (Banjar Blahtanah) dan Delodan (Selatan) ada tiga banjar (Cangi, Dauma, dan Sakah). Masing-masing tempek mendapat tugas menyelenggarakan upacara secara bergilir, termasuk menanggung biaya upacara dan membuat sarana upakara sampai tuntas. Bagi tempek yang tak mendapat bagian, cukup hadir pada hari upacara. I Wayan Sucipta
di kutip dari : http://www.saradbali.com/edisi94

3 comments:

Toto mengatakan...

Wah kapan bisa kesana yah..

Aan mengatakan...

Setelah googling ada blog bagus tentang eks muslim Indonesia.

Forum Murtadin (Eks Muslim) Indonesia

agus suteja mengatakan...

@ Aan : saya ga tahu mesti Koment apa tentang Forum Murtadin, Karena itu menyangkut Keyakinan Orang..