8.4.10

Samadhi "bekerjanya diam"

Diam, dalam arti tanpa gerakan fisikal-mekanis dan tanpa kerja verbal atau membisu, memang punya arti penting dalam laku- spiritual. Ia disebut mauna. Namun lebih dari itu, esensi diam dalam konteks laku-spiritual adalah mendiamkan gejolak pikiran dan gelora perasaan, mendiamkan pusaran-pusaran mental —"citta vritti niroda". Pada tataran ini, seseorang bisa saja kelihatan sibuk secara fisikal-mekanis, namun diam, senyap, secara mental. Atau sebaliknya, tampak diam, namun penuh kerja, amat produktif.

Keterjebakan kita pada pola-pandang kasat-indria menyebabkan kita tak bisa menyaksikan `bekerjanya diam. Namun, bila saja Anda sesekali mencoba duduk diam, mengamati apapun yang terjadi di dalam, yang berlangsung di benak Anda saat ini, boleh jadi Anda terkejut. Kenapa? Karena, dalam ke-diam-an Anda itu, ternyata ada hiruk- pikuk, ada kesibukan luar-biasa di dalam.

Selama kita terjaga —bahkan saat tidur dan bermimpi sekalipun— selalu terjadi kerja fisikal dan mental. Dan selama fisik dan mental ini aktif bekerja, dimana segenap enerji-vital tersalurkan untuk menggerakkannya, spirit tak berkesempatan bekerja karena tanpa suplai enerji-vital secukupnya. Enerji-vital yang tersedia terserap sepenuhnya atau sebagian besar hanya guna mengerjakan hal- hal yang bersifat fisikal-mekanis dan mental saja.

Nah.... dalam rangka memporsikan cukup enerji-vital bagi bekerjanya spirit inilah para penekun spiritual menggelar tapa- brata. Seperti juga fisik yang membutuhkan pangan-kinum, mental dan spiritpun membutuhkan pangan-kinumnya sendiri. Kalau fisik ini butuh pangan-kinum yang bergisi, maka mental dan spiritpun butuh yang bergisi pula. Kalau mental butuh penyegaran, butuh hiburan, humor-humor segar yang mendidik, butuh bentuk-bentuk hobi tertentu, jenis-jenis rekreasi dan olah-mental tertentu, demi kebugarannya, maka, olah-batin, laku-laku spiritual adalah apa yang dibutuhkan spirit guna mengembangkan dan meningkatkan vitalitasnya. Dan semua itu hanya mungkin dicapai dalam heneng, dalam diam —baik secara fisikal maupun mental. Dalam terminologi yoga, inilah yang disebut dengan dhyana-samadhi.

Samadhi adalah `bekerjanya diam. Suatu ketika Rinzai, seorang Master Zen yang hidup di negri Cina sekitar abad ke-9 masehi pernah berkata "Jika kamu mencoba untuk menghayati Zen dengan bergerak, hal itu berarti memasuki keheningan. Jika kamu mencoba untuk menghayati Zen di dalam keheningan, hal itu berarti memasuki gerak". Mungkin Anda dapat dengan mudah serta-merta mendiamkan kerja fisikal Anda, namun kenyataan praktisnya, kita tak bisa serta-merta mendiamkan kerja mental. Setiap kontak-kontak indriawi membangkitkan gejolak dan geloranya sendiri pada tataran mental dan batiniah; ada yang keras ada yang lemah, ada yang berlangsung lama ada pula yang singkat saja, ada yang mengundang respons, ada yang berhenti sampai disitu saja, ada yang membekas dalam ingatan ada yang berlalu begitu saja tanpa bekas berarti.

Inilah faktanya.

Seperti yang diungkap oleh Danghyang Nirartha di awal tulisan ini, seorang mahayogi adalah seseorang yang mampu bekerja dalam diam, yang mampu ber-karma di dalam akarma. Di dalam kekawin "Nirartha-prakreta", beliau juga mengungkap: "Ketika hati telah tenang dan hening, jernih dan cemerlang, menyusuplah ke alam sunya; demikianlah akhirnya batin mencapai kesempurnaan". Makanya, seorang penekun spiritual melakoni tapa-brata dalam rangka membatasi kontak-kontak ini, disamping memperkokoh pertahanan terhadap munculnya gejolak dan gelora batiniah. Tapa-brata merupakan sadhana utama yang sangat membantu praktisi yoga untuk mencapai samadhi.

Guna memungkinkan `bekerjanya diam, para suciwan, para pendahulu kita menyediakan tapa-brata. Dalam tapa-brata, disamping guna memungkinkan bekerjanya sang spirit, sang jiva, juga secara proaktif menggalang kondisi diam, kondisi heneng nan hening, yang amat dibutuhkan ini. Sekali kondisi ini dicapai, jivãtman —yang terang-benderang sifatnya— akan bekerja dengan sendirinya. Dan apapun yang dikerjakannya, akan bersifat luhur, mulia. Karena sesungguhnya dialah mata-air kemuliaan itu, dialah segenap kemuliaan dari ras manusia. Dialah pengejawantahan dari Eksistensi Sejati dalam segenap makhluk.

Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita.

Semoga Kedamaian dan Kebahagiaan menghuni kalbu semua insan.

Sumber : Hindu-Indonesia.com