9.4.10

Perlunya Mereformasi Mind-Set Masyarakat Bali

PEMBERANTASAN judi di tanah Bali tampaknya tidak akan mudah dilakukan karena ia telah merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Judi dengan segala bentuknya (tajen, ceki, togel, dan lainnya) bagi masyarakat Bali masih dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan bukan merupakan dosa besar. Hal ini jelas terlihat dari masih tak bisa terpisahkannya kegiatan perjudian semacam itu dari kehidupan masyarakat, termasuk ketika upacara dewa yadnya sedang dihelat oleh masyarakat Bali. Coba saja perhatikan dalam mempersiapkan pelaksanaan upacara acapkali masyarakat Bali mengadakan judi ceki atau tajen dengan alasan untuk sekadar menghibur atau menggali dana. Bagi mereka (para bebotoh khususnya) upacara tidak akan terasa lengkap dan kurang berarti jika tanpa disertai dengan kegiatan perjudian.

Masyarakat memberikan toleransi dan ruang yang begitu luas sehingga dia bisa berkembang dengan sebebas-bebasnya dan seluas-luasnya tanpa adanya social control. Akibatnya, perjudian dinggap sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja, apalagi dari pelaksanaan judi telah terbukti menghasilkan dana berupa cuk yang telah mampu memberikan keuntungan bagi masyarakat untuk meringankan beban pembiayaan yadnya.

Di sinilah letak sebenarnya permasalahan mengapa judi tak bisa dituntaskan oleh pihak kepolisian. Secara jelas bisa dikatakan bahwa masyarakatlah yang membuat judi tak bisa diberantas karena mereka masih menganggap kegiatan itu memberikan kontribusi yang berarti dari segi finansial kepada masyarakat.

Yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana mereformasi dan mentransformasi mind-set masyarakat Bali khususnya agar mampu mengalihkan pandangan dari judi yang dianggap sebagai sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang betul-betul tidak boleh dilakukan lagi, apalagi di tempat-tempat suci.

Dharma wacana yang sering dilakukan oleh para rohaniwan Hindu di berbagai media tampaknya belum mampu memberikan pengaruh yang signifikan untuk menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat agar menghentikan kegiatan perjudian. Pola pikir yang selalu mempraktikkan dan mendukung kejahatan tampaknya sangat disukai oleh masyarakat dewasa ini. Apakah ini sebagai pertanda juga bahwa masyarakat Bali terkena wabah STMJ -- sembahyang taat maksiat tetap jalan. Kalau hal ini benar berarti pekerjaan besar kita adalah meluruskan keadaan masyarakat yang pola pikirnya sudah menyimpang dari ajaran dharma.

Namun, kita tidak perlu berkecil hati untuk memberantas judi. Masyarakat Bali memiliki traditional rules and values untuk mengerem segala penyimpangan dengan memberdayakan hukum adat. Hal ini sangat efektif karena selama ini sanksi adatlah yang paling ditakuti oleh masyarakat Bali. Namun yang menjadi pertanyaan, maukah lembaga-lembaga adat melakukan pelarangan terhadap segala bentuk perjudian yang terjadi di lingkungan adat? Tidakkah ini dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan mengingat judi sudah dianggap sebagai sesuatu yang wajar dilakukan? Namun, demi kepentingan yang lebih besar terutama mendudukkan, menegakkan kembali ajaran agama yang benar, tidak ada jalan lain kecuali memberdayakan segala upaya yang dimiliki untuk memberantas judi.

Memang kalau dipikir-pikir tindakan mencegah judi terkesan terlambat di saat ia telah berkembang dengan begitu pesat. Apalagi di dunia saat ini paham kapitalisme, hedonisme, dan pragmatisme begitu didewakan. Segala hal yang menguntungkan menjadi tujuan setiap orang tanpa mempertimbangkan halal dan haramnya. Meskipun kenyataan seperti itu melingkupi kehidupan keseharin masyarakat, tetap tegak di jalan dharma adalah keharusan bagi kita semua. Hanya dengan dharmalah keharmonisan kehidupan akan bisa terpelihara baik secara sekala dan niskala. Oleh karena itu marilah kita semua berusaha untuk menegakkan dharma itu dengan menjauhi tindakan-tindakan yang bertentangan dengan ajaran dharma.

Sumber : Bali Post


Selengkapnya.....

KARMA dan TRANSMIGRASI

Pada saat penciptaan, sebagian kecil dari jiwa-jiwa yang tak terbilang banyaknya turun ke alam jasmani dan mengenakan penutup atau tubuh yang diperlukan untuk hidup di alam kausal, astral dan jasmani. Tubuh-tubuh ini memudarkan cahaya Jiwa sehingga ia melupakan rumah sejatinya dan kemuliaannya yang semula.

Jiwa-jiwa di alam PINDA telah berada di sana sejak jutaan tahun dan telah mengalami segala macam bentuk kehidupan yang sesuai dengan keinginan dan perbuatannya. Melalui rangkaian kelahiran dan kematian yang tak ada habisnya, kita meninggalkan tubuh yang satu untuk sekedar dilahirkan ke dalam tubuh yang lain. Itu dikenal sebagai Roda Delapan Puluh Empat atau lingkaran 8.400.000 jenis kehidupan ke dalam mana jiwa dapat berinkarnasi.

Para Suci dari segala zaman telah mengakui dan mengajarkan hukum transmigrasi (perubahan bentuk perwujudan) ini.

“Transmigrasi berarti perpindahan jiwa ke dalam berbagai jenis kehidupan untuk menunaikan tugas yang sesuai dengan karmanya. Jiwa berasal dari lautan kehidupan yang mahaluas dan akan pulang kembali kepadanya.”

Di India, hampir semua agama seperti Hindu, Jain, Buddha, Sikh dll. percaya bahwa orang mengalami suka dan duka sebagai akibat dari perbuatannya sendiri di masa lalu, dan di masa depan ia akan menanggung akibat dari semua perbuatannya yang dilakukan dalam hidup sekarang.

Umat Yahudi, Kristen dan Islam tidak mengenal transmigrasi jiwa maupun hukum karma. Mereka percaya bahwa Allah adalah Pencipta dan Tuhan seluruh alam semesta. Sama halnya seperti tukang tembikar membentuk dan merombak jambangan sekehendak hatinya di mana jambangan itu sendiri tidak berhak apa-apa, begitu juga, Tuhanlah yang menentukan apakah Ia akan memberikan Keselamatan kepada ciptaanNya atau tetap membuatnya bodoh. Mereka juga percaya bahwa karena Tuhan itu mahakuasa, tak seorangpun berhak atau mampu menghalangi perbuatanNya atau mengetahui apa yang Ia lakukan. Semua hal itu tidak dapat dipahami oleh manusia dan sebaiknya tidak usah kita pikirkan.

Para Suci menerangkan secara jelas perihal kebaikan dan keburukan hukum karma. Karma merupakan teori sebab dan akibat yang berlaku bagi seluruh alam semesta. Emerson, para ahli filsafat lain dan juga para profesor ilmu alam menyebutnya sebagai hukum kompensasi. “Apa yang kautabur, itu harus kau tuai”.

Kata-kata yang diucapkan oleh seseorang mempunyai pengaruh ganda. Yang pertama adalah aksi, dan yang kedua adalah reaksi. Reaksinya akan menggema di dalam dan di sekeliling si pembicara dan menimbulkan gelombang pikiran yang sama disekitarnya. Jadi, pikiran apa saja, entah baik atau buruk – yang keluar daripadanya akan menimbulkan gema yang tepat sama. Itu merupakan hukum tegas yang tidak dapat ditawar-tawar dan yang tetap berlaku bagi benda hidup maupun mati. Hukum itu tidak dapat dihapus.

Karma juga merupakan proses penyelesaian hutang piutang seseorang. Bila kita mengambil sesuatu dari orang lain, kita harus memberikannya kembali, dan dengan mengikuti patokan itu dibentuklah karma nasib; dengan demikian semua pasang surut kehidupan kita dapat dijelaskan. Suka dan duka, kaya dan miskin, sehat dan sakit, memberi dan menerima, semuanya merupakan hasil perbuatan semacam itu yang harus dilunasi. Bila seseorang tidak melunasinya dalam hidup ini, ia harus melakukannya dalam kehidupan yang akan datang.

Walaupun seseorang meninggal dunia, namun pita rekaman semua perbuatannya tidak musnah. Catatan mengenai semua perbuatannya itu telah tersurat pada jiwa yang masih tetap terbungkus oleh tubuh astral dan kausal, walaupun tubuh jasmaninya telah mati. Jiwa meninggalkan tubuh saat kematian, namun hutang piutangnya tetap mengikutinya sampai lunas.

Shamas Tabriz (seorang suci Islam dari Persia) berkata:
“Kita hidup di alam semesta ini, dan dalam setiap kehidupan, kita mengenakan jubah yang berbeda. Kadang-kadang sebagai makhluk yang lain, namun kita semua merupakan bagian dari Sang Pencipta. Dengan perkataan lain, kita datang ke dunia ini dan kita pergi dari dunia ini ratusan dan ribuan kali, karena alam semesta ini merupakan loka karya dengan pintu masuk dan pintu keluar.”

Ada tiga jenis karma atau perbuatan: Sinchit, Pralabdh dan Kriyaman. Sinchit adalah karma simpanan; Pralabdh adalah karma nasib; dan Kriyaman adalah karma baru. Karma simpanan merupakan hasil perbuatan masa lalu yang belum terlunasi atau belum disuratkan. Karma nasib merupakan sebagian hasil perbuatan di masa lampau yang harus diselesaikan dalam hidup sekarang, dan untuk mana kita telah diberi tubuh manusia ini, yaitu untuk mengalami akibat dari karma baik atau buruk yang telah ditentukan oleh nasib. Kriyaman terdiri atas karma baru yang terjadi dari perbuatan kita dalam hidup sekarang. Dengan perkataan lain, sambil menjalani takdir (karma nasib), kita juga membuat karma baru yang hasilnya harus kita alami dalam hidup dan sebagian lagi sebagai Sinchit.

Apakah sesungguhnya yang diartikan dengan ‘karma masa lalu?’ Ayat-ayat Suci menerangkan bahwa Tuhan mengaruniai kita tubuh jasmani – entah sebagai manusia atau makhluk yang lebih rendah – dan kita datang ke dunia ini untuk memetik sebagian hasil karma masa lalu kita yang telah disuratkan. Sesuai dengan cara yang Ia kehendaki agar kita menunaikan tugas itu, kita akan melakukannya tepat seperti itu, karena begitulah cara yang telah disuratkan oleh nasib kita. Tak seorangpun dapat meloloskan diri dari Takdir atau Nasibnya. Hanya Tuhan sajalah yang bebas, dan Ia mengatur seluruh dunia dengan hukumNya.

Karma masa lalu kitalah yang bertanggungjawab atas kebaikan dan keburukan, suka dan duka yang kita alami dan yang menentukan kita harus lahir sebagai makhluk yang hina atau mulia. “Apa yang kau tabur, itu harus kau tuai.” Kita merasa senang sebagai akibat dari perbuatan baik yang kita lakukan, dan merasa sedih sebagai akibat dari perbuatan buruk kita sendiri, karena kita harus memetik semua hasil perbuatan, baik dengan pikiran, perkataan maupun perbuatan.

Kita tidak dapat meloloskan diri dari hasil perbuatan kita dengan jalan melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Akibat seperti itu harus ditanggung di kemudian hari. Karena itu, jelaslah sudah bahwa susah atau senang, suka atau duka apapun yang kita alami, itu semua disebabkan oleh perbuatan kita sendiri dan kita tidak dapat menyalahkan siapapun untuk itu. Bagaimana orang dapat berharap untuk memperoleh hasil yang baik dari perbuatan yang buruk? Siapapun beranggapan demikian, itu adalah suatu kekeliruan.

Mohon pengampunan Tuhan dan beranggapan bahwa kita kemudian boleh berbuat dosa lagi adalah suatu kekeliruan. Penyakit merupakan hukuman atas dosa kita. Bila dosa sudah dilakukan, itu hanya dapat ditebus dengan menerima hukuman yang setimpal. Sebab utama dari semua dosa adalah anggapan bahwa kita ini tubuh. Selama kita tidak melepaskan kesadaran bertubuh, maka kesenangan inderawi dan keinginan untuk menikmatinya tidak akan hilang dari ingatan kita.

“Seringkali orang menghadapi kesulitan, karena dalam mencari kesenangan, mereka dihadapkan pada berbagai penyakit. Keinginan akan kesenangan tidak akan lenyap tanpa penyerahan diri kepada kehendakNya. Sementara itu, ia akan tetap mengembara.”

Dhrita-rashtra (ayah dari Panca Pendawa, seorang raja yang buta sejak lahir) pernah ditanya apa yang telah ia lakukan di masa lalu sehingga ia sekarang buta. Ia menjawab bahwa ia dapat melihat sejauh seratus kehidupan yang lampau, tetapi di sana ia tidak menemukan apa-apa yang dapat menjadi penyebab kebutaannya. Kemudian Batara Krisna memberikan penglihatan rohaninya untuk menunjukkan apa yang telah ia lakukan sebelum seratus kehidupan yang terakhir. Setelah itu barulah Dhrita-rashtra melihat bahwa jauh sebelum itu, ia telah melakukan suatu perbuatan untuk mana ia sekarang harus dilahirkan buta. Apakah daya kita terhadap simpanan karma yang terpendam selama ratusan kehidupan? Roda karma senantiasa berputar dan hasil perbuatan kita akan bersemi dan harus dilunasi meskipun setelah ratusan atau ribuan kehidupan.

Kita terikat oleh karma nasib kita. Ada banyak orang baik dan mereka berbuat baik oleh sebab karma nasibnya. Yang lain menjadi jahat dan berbuat jahat oleh sebab karma nasibnya. Mereka semua tidak berdaya untuk berbuat lain. Meskipun diberi kesempatan untuk melakukan perbuatan baik, mereka mengabaikannya. Mereka merasa bahwa mereka tidak memerlukan Satguru dan Tuhan.

Karma diatur oleh Kal, yang menguasai tiga dunia, yaitu dunia jasmani, astral dan kausal. Kal telah diciptakan oleh Tuhan yang Mahakuasa; ia mengatur ketiga alam terendah itu di bawah perintahnya. Ia menerapkan keadilan tanpa pandang bulu. Sesuai dengan perintah Tuhan, semua makhluk hidup setelah kematiannya diharuskan untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan baik atau buruknya dan ia mengambil tindakan sesuai dengan itu. Neraka dimaksudkan untuk orang berdosa dan surga untuk mereka yang melakukan perbuatan baik. Bila masa tinggal mereka di alam-alam itu telah habis, mereka sekali lagi harus mengitari roda perputaran hidup dan mati.

Kal mempunyai dua senjata, yaitu Waktu dan Ruang. Keduanya merupakan tiang pasak ciptaan. Ruang digunakan untuk menyebarluaskan ciptaan dan waktu selalu mendatangkan perubahan.

“Tuhan Sendirilah yang memaksa ciptaanNya untuk menjalani karma nasib yang tidak dapat dihindarkan dan tidak dapat dihapus. Apa yang telah ditakdirkan. Itu harus terjadi.”

“Kita harus bertemu dengan orang-orang tertentu; kita harus berpisah dari orang-orang tertentu. Pertemuan dan perpisahan itu juga terjadi sesuai dengan Hukum Karma. Berdasarkan itulah segala kejadian duniawi dilakukan.”

Kal memerintah seperti yang ditugaskan oleh Tuhan (Sat Purush) yang mahakuasa dan ia bukan pencipta jiwa, ia tidak dapat menciptakan maupun memusnahkan jiwa. Hanya tubuhlah yang menjadi miliknya. Ia memberikan tubuh sesuai dengan karma masing-masing dan mengambilnya kembali setelah jadwal waktunya habis. Ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap jiwa, karena jiwa adalah anak Sat Purush yang bersifat kekal.

Tidak ada satupun makhluk yang lebih rendah dari manusia yang dapat berbuat sekehendaknya. Tetapi manusia mempunyai kebebasan dalam bertindak sesuai dengan karmanya. Karena itu mereka sedikit banyak dapat memanfaatkan kebebasan dalam bertindak itu.

Kelahiran sebagai manusia hanya diperoleh berkat nasib yang luar biasa baiknya. Setelah memperolehnya, kita harus mengikuti jalan rohani dan ajaran yang dikhotbahkan oleh para Suci. Hidup manusia itu langka. Itu tidak diperoleh berulang kali. Bila kita melewatkan kesempatan itu, maka kelak kemudian hari, kita akan menyesalinya dalam-dalam.

Manusia adalah ciptaan terluhur. Itu diperoleh berkat nasib yang mahabaik. Kehidupan manusia memberi kita kemampuan untuk bersatu dengan Tuhan. Guru Arjan Sahib berkata:

“Berulang kali aku lahir sebagai kutu dan serangga,
Berulang kali aku lahir sebagai gajah, ikan atau rusa,
Berulang kali aku lahir sebagai rumput dan pohon,
Sekarang kesempatan terbuka untuk bertemu dengan Tuhan,
Tubuh mulia ini telah kuperoleh setelah berabad-abad lamanya.”

Tubuh dan jiwa manusia asyik dengan dunia ini, manusia perlu menyiapkan bekal untuk kemudian hari.

“Semua akan menempuh perjalanan ke negeri asing itu;
Wahai manusia bodoh, waspadalah, karena ajal sudah dekat!”

Meskipun demikian, pertanyaan timbul bagaimana kita dapat melakukannya? Dengan menghadiri satsang dan mengikuti ajaran-Nya, kita dapat memperoleh pembebasan dari sebagian karma kita. Tetapi, belenggu karma kita atau hasil perbuatan kita adalah begitu kuat.

Karena Karma Nasibnya, sementara orang tidak ditakdirkan untuk bertemu dengan seorang Satguru dalam hidup sekarang ini. Mereka tidak berminat untuk bertemu dengan seorang Satguru, walaupun Ia berada di tengah-tengah mereka. Karena sikap demikian dan karena Karma Nasib itu, mereka tetap mengembara dalam siklus kelahiran dan kematian dari berbagai jenis kehidupan.

Kita tidak berdaya untuk mengubah nasib kita. Apa yang ditakdirkan oleh Nasib harus terjadi. Kita hanya dapat bertemu dengan Satguru dan mengingat Tuhan bila kita telah ditakdirkan untuk itu. Orang yang mengikuti perintah pikiran, dikuasai oleh pemikiran duniawi dan benda-benda duniawi. Dan mereka yang mengikuti perintah Satguru, di dalam pikirannya ia sudah mempunyai kecenderungan untuk menghayati Tuhan.

“Hanya nasib yang menyebabkan kita pergi kepada seorang Satguru, menerima Dia sebagai Satguru, meyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendakNya, sehingga Ia menyatukan jiwa kita dengan Suara Suci.”

Lautan karma itu tak terduga dalamnya. Untuk menghilangkan karma cadangan adalah hampir-hampir mustahil. Tetapi bila kita bertemu dengan seorang Satguru, Ia melunasi semua hutang piutang karma kita dengan menganjurkan kita untuk melakukan perbuatan tanpa mengharapkan hasilnya. Bila kita melakukan latihan rohani seperti yang diperintahkan oleh Satguru dan menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya, kita akan dapat menjalani karma nasib dengan hati gembira dan tidak melakukan karma baru lain yang harus dijalani dalam kehidupan yang akan datang. Karma cadangan berangsur-angsur dimusnahkan dengan praktek mendengarkan Sabda. Kadang-kadang Satguru membantu untuk menanggung beban karma nasib kita sehingga yang seharusnya merupakan pukulan mematikan akan berubah menjadi tusukan jarum, dengan akibat bahwa kita akan menjalani karma tanpa banyak mengalami penderitaan dan ketakutan.

Dengan jalan demikian, semua karma kita akan terlunasi berkat karunia Satguru. Akhirnya kita akan dibebaskan dari beban karma dan memperoleh Keselamatan dengan menyeberangi lautan Kehidupan. Kita hanya dapat menjadi “hampa karma” selagi kita hidup di dunia ini dan melakukan semua perbuatan tanpa keinginan.

Perbuatan merupakan bagian dari pikiran dan tubuh. Selama pikiran tidak ditundukkan, kita sulit atau bahkan tidak mungkin untuk menjadi hampa karma. Pikiran selalu tidak tenang. Ia tidak dapat didiamkan walaupun hanya sedetik. Karena itu, tak seorangpun dapat membebaskan diri dari perbuatan lahiriah atau mental. Namun bila seseorang mempersembahkan semua perbuatannya di atas altar Satguru, maka perbuatan apapun yang ia lakukan, itu tidak akan terkena hukuman dan ia pasti akan memperoleh pembebasan dari roda transmigrasi.

Pada saat ajal tiba, Kal tidak akan datang untuk mengambil siswa Satguru. Satguru Sendirilah yang akan datang dan membawa jiwa itu bersamaNya. Kal tidak akan mendekati seorang bakta.

“Ego itu merupakan penyakit menahun
Yang masih dapat sembuh sendiri dengan mudah
Bila karunia Tuhan turun
Berkat Nama Satguru, jiwa melambung,
sehingga terbebas dari keakuan.”

SUMBER : FORUM WEB GAUL
Selengkapnya.....

8.4.10

Konversi Agama "Hindu"

Oleh : Surpi Aryadharma

Konversi agama sebagai penyakit kronis

Kasus konversi agama seperti sebuah penyakit kronis tetapi tidak banyak pihak yang menyadarinya. Bali yang dijadikan ladang misi sejak tahun 1630, mengalami panen besar sejak adanya pembabtisan bersejarah dan menggemparkan di Tukad Yeh Poh, Untal-Untal Dalung 11 Nopember 1931. Sejak saat itu, Kekristenan terus merambah Bali hingga konversi mencapai sekurangnya 27.500 jiwa. Angka ini baru yang berhasil dipanen oleh misi protestan, sementara Katolik diperkirakan mendapatkan pengikut yang setara. Konversi agama ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dengan upaya yang terstruktur, sistematis dan dinaungi oleh badan misi dunia.

Sejumlah sumber mengungkapkan, konversi agama di Bali terbagi atas tiga periode. Periode pertama tahun 1597- 1928, periode kedua tahun 1929-1936 berdasarkan efektifitas usaha penginjilan yang dilakukan. Kemudian periode terakhir 1937-1949 sebagai masa persiapan kelahiran Gereja Kristen Protestan Bali.

Periode pertama lebih banyak merupakan periode persiapan, di mana sejumlah badan misi dunia, para zendeling (misi Kristen) maupun misionaris (misi Katolik) mempelajari dan datang ke Bali. Sejumlah pendeta datang ke Bali dengan menyamar sebagai turis seperti Dr. H.W. Medhurst dan Dr. W.R. Baron Van Hoevall. Selain itu sejumlah peneliti dikirim sebagai tahap persiapan seperti Van Der Tuuk. Ia dikirim oleh Perhimpunan Missi Utrecht (U.Z.W.) yang bekerja sama dengan Lembaga Alkitab Belanda (N.B.G.). Van Der Tuuk bekerja di Bali tahun 1870–1873, di samping menerjemahkan injil juga membuat kamus bahasa Bali.

Sejumlah ahli yang sesungguhnya merupakan misionaris ini mempelajari dan mengkaji berbagai lontar kuno di Bali. Ternyata di balik kokohnya sistem adat, dilaporkan oleh para pekerja Kristen di Bali seperti Van Hoevall, sejak tahun 1846, sudah banyak masyarakat Bali yang tidak puas dengan system adat dan agama. Ditulis Hoeval banyak orang Bali merasakan sistem kasta yang ada dalam agama Hindu Bali tidak adil dan banyaknya upacara dan kewajiban sehubungan dengan penyelenggaraan upacara dan persembahyangan menyebabkan mereka jadi miskin. Inilah yang dipandang oleh Hoeval sebagai celah masuk untuk menyebarkan kekristenan di Bali.

Orang Bali pertama yang menjadi Kristen.

Namun walau zending terus bergulir di Bali dengan dikirimnya sejumlah penginjil, upaya pada tahap awal gagal. Tiga Pekabar Injil Belanda yang dikirim, yaitu van Eck, de Vroom, van der Jogt setelah 13 tahun usaha mereka, tahun 1873 hanya berhasil membabtis satu orang Bali yakni I Goesti Wajan Karangasem dari Bali Timur, Jagaraga
Singaraja.

I Goesti Wajan Karangasem ini yang diberi nama baptis Nicedemus. Namun karena tidak kuat menanggung beban pengucilan dari keluarga dan banjarnya, ia diduga membunuh De Room tahun 1881. Sejak kejadian berdarah yang menggemparkan itu, Belanda menutup aktivitas penginjilan dan Bali tertutup untuk waktu sekitar 50 tahun. Selain itu melalui perdebatan panjang, Belanda juga menerapkan kebijakan kebudayaan dan pendidikan yang dikenal dengan Baliseering (Balinisasi) yang dimulai tahun 1920-an yang menyulitkan para penginjil mendapatkan surat ijin untuk masuk ke Bali.

Walau demikian badan misi tidak menyerah. Di tengah tertutupnya aktivitas penginjilan, penginjil pribumi Salam Watias yang berasal dari Kediri, bekerja untuk Gereja Kristen Jawi Wetan (G.K.J.W) datang ke Bali untuk menjual buku-buku Kristen. Watias menggunakan pendekatan cultural dan mendekati orang-orang Bali karena sesama “Wong Majapahit.” Ia menjual buku-buku tersebut hingga ke pelosok-pelosok desa khususnya di Bali utara.

Karena orang Bali mempunyai kesenangan membaca pelajaran-pelajaran agama, maka ribuan buku terjual. Buku yang paling digemari adalah Injil Lukas yang ditulis dalam bahasa Bali. Tidak tertutup kemungkinan para pendukung Surya Kanta yang tidak puas dengan kondisi riil adat dan agama Bali menjadi pembeli dari buku Salam Watias.

Sekitar 80 orang Bali akhirnya minta dibabtis oleh Watiyas. Namun pekerjaan yang dinilai sangat berhasil dilakukan oleh Dr. R.A. Jaffray, Ketua C.M.A., dengan mempekerjakan Penginjil Cina yang bernama Tsang Kam Fuk, yang kemudian menyebut dirinya Tsang To Hang. Tsang To Hang berhasil masuk ke Bali tahun 1931 setelah CMA berhasil mendapatkan surat ijin khusus untuk menginjil orang-orang Tionghoa di Bali. Mereka telah menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan surat ijin masuk ke Bali, tetapi karena ijin itu tidak kunjung didapatkan, mereka menyiasati dengan meminta ijin untuk penginjilan terbatas pada orang-orang Tionghoa dan Belanda akhirnya mengabulkan permohonan itu.

Pan Loting.

Setelah satu setengah tahun upaya mereka di Denpasar hanya mampu membawa empat orang Tionghoa masuk Kristen, To Hang secara sadar melanggar surat ijin yang diberikan dan mulai menginjili orang-orang Bali.

Melalui seorang wanita Bali, istri seorang Tionghoa, ia berkenalan dengan beberapa orang Bali yang ingin keluar dari tradisi Hindu-Bali. Panen besar pun diperoleh dengan pembatisan yang menggemparkan Tanggal 11 November 931, Dr. Jaffray membabtis 12 orang Bali yang dipimpin oleh Pan Loting, di Sungai Yeh Poh.

Pan Loting adalah dukun sakti dan tokoh leak dari Buduk, yang oleh To Hang disebut sebagai tukang sihir. Pan Loting yang bernama asli I Made Gepek memiliki pengaruh yang luas karena ia dianggap orang sakti balian yang bisa membuat maupun menyembuhkan penyakit. Awalnya ia beradu ilmu dengan Tsang To Hang, tetapi kalah dan berikutnya debat teologis yang berakhir pada kekalahan sang tokoh leak.

Sampai To Hang diusir Belanda tahun 1933 ia telah berhasil membaptiskan sekitar 260 orang Bali. Setelah itu, Bali semakin terbuka dengan penginjilan dan puluhan badan misi terus bekerja di Bali untuk menambah pengikut dan jumlah gereja.

Dewasa ini, penginjilan bukan saja dilakukan dengan upaya propaganda, tetapi juga melalui badan-badan dan kegiatan besar yang dikemas menarik seperti Bali Gospel Festival yang digelar di GOR Ngurah Rai Denpasar. Kegiatan ini berupa penyembuhan masal dengan menggunakan doa-doa yang diisi dengan lagu-lagu pujian, ceramah dan persekutuan Kristen dari berbagai daerah di Bali.

Sejarah Kelam Kekristenan diBali

Agama Kristen menyadari adanya sejarah kelam kekristenan di Bali, di mana Kristen bukan saja lambat diterima di Pulau Dewata, tetapi dengan penolakan keras.

Ketua Sinode GKPB Bali saat ini Pdt. Drs. I Wayan Sudira Husada.MM mengatakan Kristen tengah berupaya memperbaiki sejarah kelam kekristenan di Bali, yakni kekristenan masuk dengan cara kasar dan menolak secara total sistem adat, sehingga mendapat pertentangan keras oleh orang Bali yang setia dengan adat. Dr. Jaffray dan Tsang To Hang meminta pemeluk kristen baru untuk membongkar sanggah karena dianggap pemujaan berhala yang sia-sia, tempat setan dan iblis dan melarang mengambil bagian pada kegiatan adat. Hal ini tentu saja menimbulkan ketersinggungan orang Bali yang pada akhirnya menjadi konflik berkepanjangan.

Penghancuran merajan/sanggah ini oleh Bishop Sudira merupakan kekeliruan dan kekristenan lebih bisa diterima jika dilakukan dengan cara-cara yang lebih lembut dan santun. Sehingga tidak heran di Gereja Abianbase, Mengwi, setiap sebulan sekali jemaat datang ke gereja mengenakan pakaian adat Bali, kebaktian dilakukan dengan bahasa Bali. Demikian pula dengan jemaat di gereja di Buduk dan Dalung.

Selain itu mereka juga turut melestarikan budaya Bali seperti gamelan dan tari Bali. Upaya ini sebagai jalan untuk meluruskan sejarah kelam kekristenan, di mana pada tahap awal Kristen identik dengan Eropa dan menganggap kehidupan orang Bali sarat dengan pemujaan berhala yang sia-sia, kabut gelap sehingga harus ditolak.

Faktor Utama Penyebab Konversi Agama di Bali

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, sekurangnya terdapat delapan factor utama penyebab orang Bali melakukan konversi, yakni :

Pertama. Ketidakpuasan atas system adat dan agama.
Sejak dulu sebagian kecil masyarakat Bali menunjukkan ketidakpuasan terhadap sistem adat dan agama. Selain itu, kelompok - kelompok yang ada di masyarakat memperlihatkan kepekaan yang berbeda terhadap doktrin keagamaan tertentu. Kerumitan banten yang dikaitkan dengan ekspresi keimanan, aturan adat yang kaku serta tidak adanya kelonggaran bagi anggota masyarakat untuk menjalankan ajaran agama menjadi keluhan yang belum terjawab. Hal ini menimbulkan goncangan sosial yang pada akhirnya menimbulkan anomi. Para penderita deprivasi ekstrim dan anomi memperlihatkan daya tanggap yang besar terhadap agama yang mengkhotbahkan pesan keselamatan.

Kedua. Krisis individu.
Manusia kerap mengalami krisis yang disebabkan oleh banyak hal seperti kondisi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan hidup, keretakan keluarga, perceraian, korban kekerasan atau perasaan berdosa karena merasa telah melakukan perbuatan tercela. Orang yang mengalami krisis cenderung mencari nilai baru, guna mendapatkan pemecahan dari persoalan yang dihadapi. Agama Kristen termasuk agama yang menawarkan pesan keselamatan yang membawa seseorang pada rasa damai sejahtera. Perpindahan agama diharapkan mampu membawa perubahan dalam hidupnya.

Ketiga. Ekonomi dan lingkungan sosial.
Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab seseorang pindah agama. Meletusnya Gunung Agung tahun 1963 diiringi dengan gelombang wabah dan kegagalan panen menimbulkan paceklik hampir di seluruh Bali. Hal itu dimanfaatkan oleh badan misi Kristen untuk memberikan bantuan seperti gandum dan alat-alat dapur maupun memberikan keahlian dengan tujuan imbalan masuk Kristen. Selain itu, banyak orang Bali karena belitan kemiskinan bersedia masuk Kristen dengan harapan mendapatkan bantuan dan terjadi peningkatan ekonomi. Kristen memiliki lembaga ekonomi yang mapan yakni Maha Bhoga Marga (MBM) yang memberikan kredit ringan bahkan bantuan Cuma Cuma untuk peningkatan ekonomi masyarakat kecil. MBM berdiri sejak 15 Januari 1963 yang pendanaannya berasal dari diakonia (dana yang terhimpun dari umat Kristen). Selain itu masih banyak lembaga sosial yang memiliki misi serupa, selain badan penyiaran seperti radio Kristen.

Keempat. Pengaruh ilmu kebatinan, Kehausan rohani dan janji keselamatan.
Ilmu kebatinan yang diajarkan Raden Atmaja Kusuma di Singaraja menjadi loncatan awal bagi kekristenan di Bali. Ajaran mistik ini sepintas mirip dengan ajaran Kristen di mana pencapaian spiritual dapat dicapai dengan pencerahan rohani, bukan dengan upacara yang besar. Umat Hindu yang mengalami kehausan rohani dulunya memang sulit mendapatkan jawaban, karena sedikitnya tokoh yang bisa memberikan pelayanan rohani.

Kelima. Keretakan keluarga dan urbanisasi.
Keluarga yang tidak harmonis mendorong terjadinya konversi. Anggota keluarga yang merasa terlempar dari ikatan keluarga dan merasa sebatang kara tanpa ada yang memperhatian cenderung akan mencari komunitas baru yang dapat dijadikan tempat untuk berbagi dalam kehidupannya.

Keenam. Perkawinan dan urutan kelahiran dalam keluarga.
Perkawinan seringkali menimbulkan terjadinya konversi agama. Wanita Bali yang kawin dengan pria Kristen sebagian besar akan mengikuti agama suami karena sistem patrialistik dari masyarakat Bali. Namun tidak sedikit justru pria Hindu yang mengikuti agama calon istrinya. Selain itu, urutan kelahiran dalam keluarga sangat berpengaruh. Di mana anak laki-laki yang bukan merupakan pewaris keluarga lebih mudah untuk beralih agama karena tidak terikat tanggung jawab dalam keluarganya. Juga mereka bukan penanggung jawab utama baik dalam melakukan pengabenan bagi orang tuanya maupun mengurus sanggah dan warisan keluarga.

Ketujuh. Kegiatan penginjilan yang agresif.
Kristen memang merupakan agama missioner. Tugas penginjilan bukan hanya dilakukan oleh penginjil profesional, tetapi juga oleh seluruh gereja dan jemaat. Banyak warga yang masuk Kristen karena kegiatan penginjilan yang mempropagandakan kehidupan yang lebih baik.

Kedelapan. Lemahnya pemahaman teologi (Brahmavidya).
Masyarakat Hindu di Bali yang menjalani agama cenderung dengan berbagai upacara menyebabkan teologi tidak mendapatkan tempat yang layak dalam pelajaran agamanya. Ketidaktahuan ini tentu saja merugikan dialog antar pemeluk agama maupun dengan penginjil yang memang mapan dalam berdebat. Delapan factor utama diatas sesungguhnya berpangkal pada lemahnya pemahaman atas ajaran Hindu, sehingga para converts dengan mudah meninggalkan Hindu.

Dialog yang intensif.
Delapan faktor utama itu ternyata tidak berdiri sendiri, melainkan konversi terjadi karena akumulasi banyak faktor. Dari penelitian yang dilakukan, salah satu konversi bisa terjadi karena perkawinan, ditambah dengan adanya dialog yang intensif dan pembelajaran serta lemahnya pemahaman atas agama Hindu.

Atau dengan terjadinya krisis individu yang tidak mendapatkan jawaban dalam pandangan hidup lama, ditambah dengan lemahnya pemahaman teologi dan kuatnya daya tarik komunitas Kristen yang tidak mengenal sanksi baik moral maupun material seperti dalam sistem adat Bali. Namun sebagian besar converts mengakui tidak pernah belajar Hindu secara baik dan tidak memahami teologi Hindu.

Hampir tidak ada konversi yang terjadi tanpa didahului dialog dengan mempertanyakan agama lama dan keunggulan agama Kristen. Dalam dialog dengan pemahaman yang minim, penganut Hindu memang sering kewalahan dengan umat Kristen yang dengan jelas mampu memaparkan keimanan, ibadah maupun teologi kekristenan. Olehnya sudah selayaknya para pemuka Hindu, majelis Hindu maupun tokoh-tokoh Hindu memikirkan penanaman teologi dan pentingnya dialog dalam pergaulan di era global yang tidak dapat dihindari ini.

Tulisan ini dipetik dari tesis: Konversi Agama Masyarakat Bali (Studi Kasus Konversi agama Hindu ke Kristen Protestan di Kelurahan Abianbase Kecamatan Mengwi Badung), Ni Kadek Surpi, IHDN Denpasar 2009

Sumber : MEDIA HINDU ONLINE
Selengkapnya.....

Memuja Leluhur

Editorial Putu Setia

Bagaimanakah para leluhur kita di masa lalu mengajarkan masalah moral, budi pekerti, keyakinan agama, dan ritual-ritual yang ada? Apakah mereka memberikan dharma wacana sambil mengutip buku-buku suci? Mungkin tidak, teknik penyampaiannya pasti sederhana dengan cara bercerita.

Sekarang, guru atau tokoh agama mengutip kitab-kitab suci da­lam melakukan dharma wacana. Maklum, pendengarnya juga kri­tis, semua hal yang bersifat anjuran, pantangan, dan seba­gainya, selalu dimintai rujukannya di kitab suci. Begitu pula pen­dharma wacana, sebentar-sebentar mengutip sloka suci su­paya kelihatan lebih keren.

Orang-orang di desa begitu polos menjalankan ritual agama dan juga memaknai kehidupan beragama. Kalau ada piodalan di pu­ra, mereka datang tanpa rumit memikirkan apakah yang akan mere­ka puja di pura itu leluhur atau dewa atau Hyang Widhi. Isti­lah bethara, dewa, dan Tuhan masih rancu di kalangan orang-orang yang polos itu. Banyak sekali umat Hindu di pedesaan tak tahu dan tak perlu tahu apa beda bethara, dewa dan Tuhan. Ka­lau piodalan di pura ada orang yang kerauhan (trance) dan orang yang kerauhan itu menyebutkan kelinggihan Ida Bethara ter­tentu, umat sulit menjelaskan siapa Ida Bethara tertentu itu. Ka­lau ada yang bertanya apakah Ida Bethara itu Tuhan, mereka dengan mudah saja menjawab: ya. Bahkan orang kerauhan Butha pun juga disebut Tuhan. Jadi, begitu banyak Tuhan.

Ini yang sering sekali membuat orang non-Hindu bingung, ka­lau jawabannya seperti itu kenapa agama Hindu masih tegas me­nyatakan Tuhan itu Esa? Kenapa Hindu masih menyebut aga­ma monotheisme? Tak heran kalau beberapa buku sejarah dan sosial menyebutkan Tuhan umat Hindu itu ada banyak.

Di banyak desa di Bali, pemujaan kepada leluhur menda­pat­kan tempat yang utama. Barangkali warga di sini tak perlu rumit dan ruwet mendefinisikan soal leluhur itu. Bagi mereka memuja le­luhur sudah cukup untuk membuktikan bahwa mereka men­jalankan ritual agama, tentu saja agama Hindu. Dengan hanya me­mu­ja leluhur, mereka tetap yakin sebagai bagian yang sah dari orang Bali, dan juga tidak ragu untuk menyebutkan agama mere­ka, yakni Hindu.

Salahkah mereka yang hanya memuja leluhur? Perlukah kita men­cibir mereka sebagai “terbelakang” atau “kurang paham ajar­an agama” atau sebutan lainnya, yang mengesankan seolah-olah kita lebih tahu masalah agama dibandingkan mereka? Jangan cepat-cepat melontarkan tuduhan seperti itu. Tradisi yang mereka peli­hara dan mereka pertahankan itu pastilah dulunya ditanamkan dengan penuh keyakinan oleh leluhur mereka yang paham soal aga­ma.

Kitab suci Bhagawadgita, pada sloka VII-21 mengatakan, “apa­pun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut aga­ma, Aku perlakukan kepercayaan mereka sama supaya tetap te­guh dan sejahtra”. Sloka ini adalah kelanjutan dari penjelasan bagai­mana jika umat menyelengarakan ritual untuk memuja dewa­ta. Di sini jelas disebutkan bahwa perbedaan dalam melakukan pe­mujaan itu hasilnya sama saja menuju Aku (Tuhan Yang Esa).

Pada sloka IX-25 disebutkan. “Yang memuja dewata pergi ke­pada dewata, kepada leluhur perginya yang memuja leluhur me­reka, dan kepada roh alam perginya yang memuja roh alam, te­tapi mereka yang memuja-Ku, datang kepada-Ku.”

Ketiga bentuk pemujaan ini, baik kepada dewa-dewa, leluhur, mau­pun roh suci yang ada di alam, semuanya mendapatkan paha­la. Semuanya bisa dibenarkan, namun Krisna mengajarkan jika umat memuja Tuhan secara langsung, itulah yang terbaik.

“Yang terbaik” tidak harus diartikan itulah jalan satu-satunya. Apalagi diartikan itu jalan yang paling benar, sementara yang lainnya salah. Dalam kepercayaan Hindu, seseorang yang te­lah meninggal dunia, rohnya (atman) menyatu dengan Tuhan. Bu­kan seperti kepercayaan agama lain, “berada di sisi Tuhan”. Ka­rena roh atau atman menyatu dengan Tuhan, mereka yang me­muja leluhur otomatis memuja Tuhan juga. Ibarat pepatah, sam­bil berenang minum air, sambil memuja leluhur, kita memuja Tuhan.

Dengan pemahaman seperti ini, tradisi pemujaan kepada leluhur bukanlah sesuatu yang salah. Yang penting adalah kita ta­hu di mana posisi kita berada dalam melakukan pemujaan, apa­kah itu kepada leluhur (bethara), dewa, atau Tuhan. Leluhur me­nyatu dengan Tuhan, dewa adalah sinar sucinya Tuhan, jadi se­sungguhnya obyek yang dipuja sama saja.

Masalahnya adalah apakah “memuja leluhur” lewat pe­rantaraan balian, dasaran, tapakan, atau apapun namanya, ju­ga termasuk dalam jalur “pemujaan kepada Tuhan?” Ini yang per­lu diwaspadai. Dengan segala hormat saya kepada mereka yang mempercayai balian, dasaran, tapakan dan sebagainya ini, saya berpendapat ini sudah di luar konteks. Bahkan di luar dari makna sloka Bhagawad Gita yang saya kutip di atas.

Kita tidak tahu, sejauh mana tingkat kerohanian dan tingkat spiri­tual mereka yang disebut balian, dasaran, tapakan itu. Kita sulit membuktikan apakah omongan mereka, meski pun sete­lah dinyatakan kerauhan, bisa dipegang untuk dijadikan pe­doman. Misalnya, ada tradisi, ketika baru punya anak, menanya­kan langsung ke balian (ada menyebutnya nunasang ke baas pipis) siapa yang numadi (reinkarnasi). Balian pasti men­yebutkan tak jauh-jauh, mungkin kakeknya, eyangnya, ne­neknya, atau siapa pun yang sudah meninggal dunia. Dengan mem­percayai hal ini, keluarga itu akan mematut-matutkan anak yang baru lahir itu dengan sifat orang yang numadi. Ini ber­bahaya karena karakter anak akan terpengaruh oleh apa yang su­dah diyakini oleh keluarga itu. Jadi, mari kita rasional termasuk jangan terlalu percaya kalau leluhur sering memberi kutukan atau leluhur suka minta macam-macam.

Sumber : WWW.HINDU-RADITYA.NET
Selengkapnya.....

Mantram Gayatri

Gayatri Mantra dan Pranawa Mantra (AUM atau OM) adalah Mantra-mantra yang paling populer dari agama Hindu. Gayatri Mantra berasal dari Rig Weda (III, 62:10) Beberapa orang menyebut Mantra ini Sawitri Mantra karena berisi kata Sawitri. Legenda mengatakan bahwa Mantra ini disusun oleh Mahareshi dari India Selatan Wishwamitra, yang adalah seorang ksatriya karena kelahiran dan akhirnya menjadi Brahmin karena tapanya yang serius dan bhakti kepada agama Hindu.

Seperti Mantra lainnya, untuk mendapat hasil yang tepat, Mantra ini harus diterima dari seorang Guru. Bila seseorang ingin mengucapkan (japa, chant), ia hendaknya mengikuti tulisan Dewanagari. Mohon jangan ikuti versi Inggrisnya yang saya berikan di bawah ini. Menurut agama Hindu, satu Mantra yang diucapkan secara salah lebih buruk dari pada tidak mengucapkan mantra itu sama sekali.

Secara pribadi aku merasa bahwa seperti semua Mantra yang lain, Mantra agung ini berasal dari Tantra dan itulah mungkin sebabnya mengapa ia menyimpan dalam dirinya kekuatan yang tidak dapat dijelaskan.

Gayatri Mantra bunyinya kira-kira sebagai berikut :

OM
Bhur bhuwah swah
Tat Savitur warenyam
Bhargo dewasya dhimahi
Dhiyo yo nah prachodayat

Menurut agama Hindu Mantra ini tidak bisa diterjemahkan, menulis suatu terjemahan yang salah dianggap oleh banyak orang Hindu sebagai bidah.

Bagaimanapun supaya kamu dapat menghargainya, inilah kira-kira terjemahannya yang mendekati : "OM! Mulia (Glory) untuk Sawitri, yang mulia, cahaya dari Yang Suci, marilah kita meditasi kepadanya. Mudah-mudahan ia memberi kita inspirasi dengan pengertian, ia adalah Gayatri." Terjemahan lain : "Ya Tuhan Yang Maha Esa penguasa alam semesta, Marilah kita bersemadi pada cahaya suci Tuhan yang patut disembah itu, yang memberikan penerangan suci pada pikiran kita."

Dikatakan bahwa suku kata dari Mantra agung ini adalah merupakan puncak dari empat Weda. Tantra Wishwamitra mengatakan, "dua puluh empat suku kata Gayatri adalah merupakan dua puluh empat shakti atau kekuatannya. Tata cara pemujaan hendaknya sesuai dengan bentuk dari Sakti ini."

Bahkan Mahareshi Wasishtha, yang telah melakukan perdebatan yang sengit dengan Wishwamitra, memuji Mantra ini, menyatakan bahwa bahkan orang-orang bodoh, kaum kriminal dan orang-orang cacat mental dapat memperoleh manfaat dari Gayatri Mantra. Mantra ini telah dipromosikan oleh hampir semua orang-orang suci Hindu, termasuk Adwaitist seperti Adi Sankara.
Source : Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)

Sumber : HINDU INDONESIA.COM

Selengkapnya.....

Keajaiban di Sebuah Pura

Melebihi Mekkah atau Vatican
Oleh: Dasan Rangarajan

Hampir semua umat Hindu di dunia ini pasti tahu Bukit Suci Thirumala, di Thirupati, Andhrapradesh, India. Thirumala adalah rangkaian tujuh bukit, sehingga disebut juga Saptagiri. Di puncak bukit ke tujuh yang paling tinggi, adalah Pura Agung Tuhan Venkateshwara, atau di India Selatan dikenal sebagai Srinivasa Perumal dan di Utara lebih termashyur sebagai Balaji. Pura Agung ini adalah tempat perziarahan paling populer di seluruh dunia dan merupakan institusi keagamaan yang terkaya di dunia, bahkan melebihi Mekkah dan Vatican. Pada hari-hari biasa, minimal 5 – 10 ribu orang akan berdesakan dan mengantri berjam-jam untuk dapat masuk dan melihat sekilas Archa Tuhan Srinivasa, yang merupakan salah satu Svayamvyakta-murti atau Citra Suci yang terwujud sendiri tanpa sentuhan tangan makhluk fana.

Pura Agung ini dikelola oleh semacam badan khusus disebut Thirumala Thirupati Devasthanam (TTD) yang mengatur berbagai hal, mulai dari keteraturan berlangsungnya ritual di kuil, akomodasi para peziarah, mengelola dana yang berasal dari sumbangan umat, sampai menyalurkannya untuk kegiatan-kegiatan sosial di berbagai bidang seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, proteksi dan pelestarian budaya Hindu, dsb. Karena luar biasanya kepopuleran Pura ini, sampai-sampai TTD juga menerapkan sistem ticketing untuk berbagai hal yang mungkin akan dilakukan oleh peziarah. Mulai dari sekedar masuk Pura dan darshan kepada Tuhan Srinivasa, melakukan persembahan khusus, dan mengikuti upacara-upacara yang terjadwal dalam kehidupan keseharian Pura ini. Semakin mudah dan cepat bisa masuk ke dalam Pura, maka semakin mahal harga tiket yang harus dibayar. Jadi kita mengenal pembelian tiket sampai booking tiket VIP dan VVIP untuk sekedar masuk ke dalam Pura. Sistem ini selain membantu keberlangsungan dukungan dana untuk Pura, juga mempermudah bagi peziarah yang memiliki sedikit waktu. Bayangkan saja dengan waktu libur kita yang terbatas di luar India, kita jauh-jauh datang ke Thirumala, lalu harus antrilagi berjam-jam.

Dengan nilai uang yang sangat tinggi di India, banyak yang tidak dapat membeli tiket VIP apalagi VVIP, padahal bagi kita orang Indonesia yang mampu ke luar negeri, 200 – 300 ribu bukan jumlah yang berarti. Itu karena nilai uang kita justru sangat rendah di negara kita sendiri. Semisal di Indonesia kita tidak bisa beli beras seharga seribu Rupiah sekilo, tapi di India, dengan sejumlah Rupee dengan nilai yang sama bisa. Saat ini mungkin 1 Rupee India sekitar Rp. 300,00. Anggaplah tiket VVIP seharga 1000 Rupee, jadi sekitar Rp. 300.000,00. Di India dengan seribu Rupee kita bisa beli macammacam, tapi di Indonesia, nyaris tidak berharga. Di sisi lain, rakyat India sekalipun bisa mendapat kebutuhan pokok dengan harga yang jauh lebih murah dari di Indonesia, tetapi secara otomatis seribu Rupee juga termasuk jumlah yang besar bagi rakyat kebanyakan di sana. Bayangkan saja negara-negara yang nilai mata uangnya jauh lebih tinggi dari Indonesia. Jadi ticketing ini cukup menguntungkan bagi peziarah yang datang dari luar India seperti kita. Beberapa saudara kami yang ke Thirumala, semua membeli tiket VVIP. Tapi itupun membuat mereka harus antri 2-3 jam untuk masuk dan melihat ke dalam Ruang Mahasuci (hanya kurang dari 10 detik!).

Antri 5-6 jam
Seorang paman dari Negeri Jiran berkisah kepada saya. Dia datang berziarah ke Thirupati dan hendak membeli tiket VVIP. Dengan nilai mata uang negaranya, tentu beliau termasuk orang yang sangat berada bila di India. Sayang, semua tiket VVIP, bahkan VIP biasa pun sudah habis. Uring-uringan mereka sekeluarga terpaksa mengikuti jalur biasa yang bisa memakan waktu 5-6 jam, mendaki ribuan anak tangga yang melalui keenam bukit menuju bukit ke tujuh yang paling tinggi. Ribuan peziarah lokal dari kalangan bawah juga mengikuti jalur yang sama, karena mereka memang tidak punya uang untuk membeli tiket VIP apalagi VVIP seperti “turis kaya” semacam kita.

Satu keluarga berpenampilan miskin dan lusuh menjadi teman seperjalanan keluarga paman. Paman bertanya kepadanya dia datang dari mana. Dia menyebut sebuah desa yang cukup jauh juga sekalipun masih dalam negara bagian Andhra. Lalu bagaimana dia datang ke sini? Mereka sekeluarga ternyata berjalan kaki dari desanya karena tak ada biaya untuk sewa kendaraan! Lalu sudah berapa kali mereka berziarah ke Thirupati? Sang ayah berkata kalau dia sejak usia 7 tahun selalu ke Thirupati setiap tahun tanpa absen (kira-kira dia berusia 35-40 tahun saat pertemuan itu). Wow! Dan dia selalu menempuh jalan yang sama, karena dari sekian tahun yang lalu ekonomi keluarga mereka tidak pernah membaik. Selama sekian tahun dia berjalan kaki dari desanya, lalu mendaki ribuan anak tangga sampai ke puncak bukit ke tujuh, mengantri berdesakan selama 5-6 bahkan pernah 8-12 jam (ini biasa kalau ada perayaan besar seperti Brahmotsava, “perayaan ulang tahun” Pura Agung itu), dan itu hanya untuk dapat melongok ke dalam Ruang Mahasuci yang tak lebih dari 10 DETIK!

Tidak mencari apa-apa
Paman baru sekali lewat jalur non VVIP ini. Dia bertanya, “Apa yang anda cari di sini. Apa yang anda mohon setiap tahun dari Tuhan Srinivasa dengan menempuh kesulitan begitu besar?” Si ayah, kepala keluarga yang miskin ini menjawab, “Saya tidak mencari apa-apa. Saya tidak memohon apa-apa. Saya hanya ingin memperlihatkan pada Tuhan Srinivasa bahwa selama setiap tahun ini saya baik-baik saja dan sekarang saya membawa keluarga saya, juga untuk memperlihatkan bahwa mereka baik-baik saja. Saya
datang untuk berterimakasih karena Tuhan Srinivasa selama sekian lama sudah merawat saya dan kami semua dengan begitu baik.”

Airmata Paman menetes (saya yang mendengar cerita ini juga meneteskan airmata). Paman sudah merasakan, bahwa dengan bertemu keluarga ini, seluruh perziarahannya ke Thirupati Thirumala sungguh-sungguh berhasil. Perziarahan ke Pura Agung paling termashyur di dunia ini dan Darshan 10 detik kurang itu sekarang benar-benar bermakna. Tuhan Srinivasa Sendiri sudah mengajarkan kepada kami, bagaimana sesungguhnya cinta sejati kepada-Nya. Inilah bagaimana kunjungan ke sebuah Pura merubah pandangan kami terhadap hidup ini, terhadap diri kami, dan terhadap Tuhan. Inilah bagaimana Tuhan yang bertahta sebagai Sri Srinivasa Perumal dalam bentuk sebuah arca batu hitam yang tak dibuat oleh makhluk fana manapun, telah mengubah hati kami! Inilah keajaiban dari Dharma yang telah menjadi pelita penerang keluarga kami selama ratusan generasi.

Sumber : MEDIA HINDU Online
Selengkapnya.....

Samadhi "bekerjanya diam"

Diam, dalam arti tanpa gerakan fisikal-mekanis dan tanpa kerja verbal atau membisu, memang punya arti penting dalam laku- spiritual. Ia disebut mauna. Namun lebih dari itu, esensi diam dalam konteks laku-spiritual adalah mendiamkan gejolak pikiran dan gelora perasaan, mendiamkan pusaran-pusaran mental —"citta vritti niroda". Pada tataran ini, seseorang bisa saja kelihatan sibuk secara fisikal-mekanis, namun diam, senyap, secara mental. Atau sebaliknya, tampak diam, namun penuh kerja, amat produktif.

Keterjebakan kita pada pola-pandang kasat-indria menyebabkan kita tak bisa menyaksikan `bekerjanya diam. Namun, bila saja Anda sesekali mencoba duduk diam, mengamati apapun yang terjadi di dalam, yang berlangsung di benak Anda saat ini, boleh jadi Anda terkejut. Kenapa? Karena, dalam ke-diam-an Anda itu, ternyata ada hiruk- pikuk, ada kesibukan luar-biasa di dalam.

Selama kita terjaga —bahkan saat tidur dan bermimpi sekalipun— selalu terjadi kerja fisikal dan mental. Dan selama fisik dan mental ini aktif bekerja, dimana segenap enerji-vital tersalurkan untuk menggerakkannya, spirit tak berkesempatan bekerja karena tanpa suplai enerji-vital secukupnya. Enerji-vital yang tersedia terserap sepenuhnya atau sebagian besar hanya guna mengerjakan hal- hal yang bersifat fisikal-mekanis dan mental saja.

Nah.... dalam rangka memporsikan cukup enerji-vital bagi bekerjanya spirit inilah para penekun spiritual menggelar tapa- brata. Seperti juga fisik yang membutuhkan pangan-kinum, mental dan spiritpun membutuhkan pangan-kinumnya sendiri. Kalau fisik ini butuh pangan-kinum yang bergisi, maka mental dan spiritpun butuh yang bergisi pula. Kalau mental butuh penyegaran, butuh hiburan, humor-humor segar yang mendidik, butuh bentuk-bentuk hobi tertentu, jenis-jenis rekreasi dan olah-mental tertentu, demi kebugarannya, maka, olah-batin, laku-laku spiritual adalah apa yang dibutuhkan spirit guna mengembangkan dan meningkatkan vitalitasnya. Dan semua itu hanya mungkin dicapai dalam heneng, dalam diam —baik secara fisikal maupun mental. Dalam terminologi yoga, inilah yang disebut dengan dhyana-samadhi.

Samadhi adalah `bekerjanya diam. Suatu ketika Rinzai, seorang Master Zen yang hidup di negri Cina sekitar abad ke-9 masehi pernah berkata "Jika kamu mencoba untuk menghayati Zen dengan bergerak, hal itu berarti memasuki keheningan. Jika kamu mencoba untuk menghayati Zen di dalam keheningan, hal itu berarti memasuki gerak". Mungkin Anda dapat dengan mudah serta-merta mendiamkan kerja fisikal Anda, namun kenyataan praktisnya, kita tak bisa serta-merta mendiamkan kerja mental. Setiap kontak-kontak indriawi membangkitkan gejolak dan geloranya sendiri pada tataran mental dan batiniah; ada yang keras ada yang lemah, ada yang berlangsung lama ada pula yang singkat saja, ada yang mengundang respons, ada yang berhenti sampai disitu saja, ada yang membekas dalam ingatan ada yang berlalu begitu saja tanpa bekas berarti.

Inilah faktanya.

Seperti yang diungkap oleh Danghyang Nirartha di awal tulisan ini, seorang mahayogi adalah seseorang yang mampu bekerja dalam diam, yang mampu ber-karma di dalam akarma. Di dalam kekawin "Nirartha-prakreta", beliau juga mengungkap: "Ketika hati telah tenang dan hening, jernih dan cemerlang, menyusuplah ke alam sunya; demikianlah akhirnya batin mencapai kesempurnaan". Makanya, seorang penekun spiritual melakoni tapa-brata dalam rangka membatasi kontak-kontak ini, disamping memperkokoh pertahanan terhadap munculnya gejolak dan gelora batiniah. Tapa-brata merupakan sadhana utama yang sangat membantu praktisi yoga untuk mencapai samadhi.

Guna memungkinkan `bekerjanya diam, para suciwan, para pendahulu kita menyediakan tapa-brata. Dalam tapa-brata, disamping guna memungkinkan bekerjanya sang spirit, sang jiva, juga secara proaktif menggalang kondisi diam, kondisi heneng nan hening, yang amat dibutuhkan ini. Sekali kondisi ini dicapai, jivãtman —yang terang-benderang sifatnya— akan bekerja dengan sendirinya. Dan apapun yang dikerjakannya, akan bersifat luhur, mulia. Karena sesungguhnya dialah mata-air kemuliaan itu, dialah segenap kemuliaan dari ras manusia. Dialah pengejawantahan dari Eksistensi Sejati dalam segenap makhluk.

Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita.

Semoga Kedamaian dan Kebahagiaan menghuni kalbu semua insan.

Sumber : Hindu-Indonesia.com

Selengkapnya.....

Powered by IP Address Locator