15.10.08

Sedikit Tips Untuk memotret Hantu

Memotret Hantu??, Mudah Kok !!!
SEKITAR lima tahun lalu, terjadi booming tayangan penampakan di layar televisi. Silang pendapat mulai mengalir. Bagi yang mempercayai bahwa hantu atau jin itu mahluk gaib, maka tidak mungkin bisa ditangkap kamera. Tetapi, di tempat berseberangan, meyakini hantu bisa difoto 'dengan sengaja'. Salahsatu ahli fotografi, Dale Kaczmarek membuat ramuan dan teknik fotografi, yang diyakini bisa menangkap sosok hantu secara sengaja......

Kamera Manual SLR

Perburuan gambar hantu mungkin salah satu kecelakaan paling fatal yang dibuat manusia
dalam sejarah dan perjalanan fotografi. Awalnya mungkin hanya ketidaksengajaan,namun kemudian menjadi semacam obsesi dan menyingkirkan semua objek nyata yang seharusnya kita potret. Tapi bagi Anda yang merasa berburu hantu hanya untuk sekedar menambah keterampilan memotret dan memuaskan rasa ingin tahu, beberapa tips berikut ini mungkin berguna.
Semua jenis kamera sebenarnya bisa merekam penampakan hantu. Mulai dari kamera 35mm, SX-70, 110 Instamatic, Polaroid Instamatic Land. Tapi kamera yang paling baik adalah kamera SLR 35mm, karena kita bisa mengatur sendiri pengaturan ASA, kecepatan, dan waktu pengambilan gambar. Lebih baik lagi kalau menggunakan film infra merah, karena film infra merah sangat sensitif terhadap cahaya yang tidak tertangkap mata.
Saya selalu menggunakan dua buah kamera SLR 35mm. Satu kamera saya isi dengan film infra merah berkecepatan tinggi hitam putih. Sedangkan kamera yang satunya lagi saya isi dengan film hitam putih biasa ASA 400. Dengan demikian saya bisa membandingkan hasil-hasil jepretan dari kedua kamera ini. Jika yang ingin kamu potret adalah benda yang tidak terlihat, kamu bisa menggunakan film infra merah. Tapi, jika bayangan yang aneh atau pantulan cahaya, maka seharusnya kedua jenis film bisa. Karena itulah kita perlu menggunakan film berkecepatan tinggi untuk memastikan hasil jepretan kita.
Beberapa tips berikut ini, mungkin berguna bagi yang ingin mencoba menggunakan film
infra merah, Pertama, gunakan film infra merah hitam putih. Akan lebih mudah memisahkan jika hitam, putih, dan abu-abu.

1. Menggunakan film infra merah memerlukan perhatian dan kecermatan. Film inframerah sangat sensitif terhadap panas dan karena itu harus disimpan di dalam kulkas sebelum digunakan. Sekitar satu jam sebelum memasukkan film ke dalam kamera, keluarkan film dari kulkas supaya film dapat menyesuaikan dengan kondisi suhu ruangan supaya hasil jepretan nanti tidak berkabut.

2. Selain itu, film infra merah sangat sensitif terhadap cahaya infra merah. Karena itu pastikan selalu untuk memasang dan melepas film infra merah di ruang gelap. Jangan menggunakan lampu merah karena lampu itu memancarkan radiasi infra merah. Jika
kamu tidak terburu-buru memroses film tersebut, lebih baik film disimpan di dalam kulkas. Jangan biarkan film terlalu lama ngendon di dalam kamera, tapi jika kamu terpaksa melakukan hal itu paling tidak simpanlah kamera di tempat yang sejuk seperti dikamar yang berpendingin ruangan.

3. Karena film infra merah tidak memiliki ASA yang fixed, kamu harus memperhitungkan cahaya dan menentukan sendiri ASA kameramu. ASA 100 sudah mencukupi jika ingin memotret di luar ruangan di tengah hari. Saat mencuci film, jangan lupa memberitahu bahwa kamu menggunakan ASA 100 dan pastikan film dibuka di ruangan gelap! Demikian pula saat membeli film infra merah, jika sang penjual tidak membawa film itu dari kulkas bisa dipastikan film infra merah itu sudah rusak.

4. Kodak merekomendasikan film infra merah hitam putih dengan filter merah nomor 25.
Tapi sebaiknya kita mencoba menggunakan berbagai filter yang ada dan bahkan tanpa menggunakan filter sama sekali. Karena semua filter menghalangi masuknya beberapa jenis cahaya dan spektrum warna. Padahal kita tidak tahu di spektrum warna mana para hantu itu berada.

5. Jangan menggunakan flash, karena akan menimbulkan pantulan cahaya aneh yang akan disalahartikan sebagai bayangan hantu. Gunakan tripod yang stabil.
Kamera Digital Saat ini, kamera manual SLR sudah ditinggalkan karena tidak praktis.
Fotograsi profesional maupun amatir, atau hanya sekedar punya, mulai beralih ke kamera digital.
Pemotretan hantu dengan kamera digital yang serba otomatis, sama sederhananya.
Disarankan, jika memotret tanpa blitz, harus menggunakan tripot yang kokoh, agar hasil gambar tidak blur. Tetapi, umumnya, sosok hantu yang ditangkap lebih nyata. Bahkan jika beruntung, bisa berbentuk ujud asli. Sebaliknya, jika menggunakan blitz atau lampu kilat, maka, mau tidak mau sosok hantu yang tertangkap kamera, umumnya seperti pendaran cahaya. Baik bulat (orbs) ataupun memanjang.
Cuma, yang perlu dicermati, tidak semua pendaran cahaya itu adalah hantu. Bisa jadi, itu partikel debu yang berada di dekat lensa, kemudian memantulkan sinar blitz. Umumnya, jika hantu betulan, warnanya beraneka ragam.

Sengaja

Memotret hantu terbaik, adalah mendatangi sendiri sarang hantu itu. Dengan sabar menunggu munculnya hantu, seperti uji nyali. Setelah tampak, langsung diambil gambarnya. Tetapi, ada pendekatan tenaga dalam untuk memotrer hantu. Bagi seseorang yang menguasai tenaga dalam, dia akan merasakan getaran lain, dari alam gaib di sekitarnya.
Nah, jika dia ingin memotret hantu, bukan kameranya yang dibacarakn rapalan, yang cenderung klinik itu, melainkan berusaha mengajak hantu atau jin, memasuki alam nyata
manusia. Jika jin atau hantu bersedia, maka, dijamin akan bisa dipotret, karena berujud. Jika tidak berkenan, umumnya, bagi pemotret hantu akan mengajak bertarung kepada jin itu, atau menariknya ke alam nyata. Ketika jin sudah memasuki alam nyata, langsung dipotret, umumnya kelihatan.
Jika faktor-faktor itu belum dikuasai juga. Kita berharap bisa memotret hantu secara tidak sengaja, di mana saja, kapan saja, siapa tahu, dapat sosok hantu.

Selamat mencoba.
Copy Frm : www.cyberforum.us
Selengkapnya.....

14.10.08

Windu sebagai Gerbang Samaralaya

“Ana ta windu ring jro wiji, gunung nia kapagut dening pucukning karalu” .
Ada titik bulat dibelahan dalam vagina, itulah yang disentuh oleh ujung penis.

Dalam Teks Samarakridalaksana, G-spot diistilahkan dengan windu. Windu ini terletak di belahan dalam lobang vagina dan bagi para suami yang perduli seks, windu inilah yang seharusnya dicari dan disentuh oleh ujung penis (karalu) guna pencapaian orgasme vaginal (murca) bagi istri.
Sama seperti penjelasan teks Rahasya Sanggama dan Resi Sambina, Samarakridalaksana juga menunjuk dengan tegas “zona” erektil wanita dalam liang vagina sebagai salah satu organ seks terpenting bagi orgasme istri. “Titik” erektil yang oleh Grafenberg Ernest diistilahkan dengan G-spot, dalam Smarakridalaksana diulas dengan cermat, bahkan penggambaran dan sensasi seks yang akan didapat oleh istri berkat usaha suami merangsang organ seks tersebut (windu/G-s pot) dipaparkan dengan jelas, adapun kutipannya berikut:
“Yan kumeter sarwa sandinia, man ggeh ya mangupia (mangu = terpekur), man glih, sisigen, yan wus mangkana aywa maswe dening aningali caya, dunungen jiwaning stri ring cakralingga, aywa sim pang denarasa patia, katemu pranalingga, ika swarga sakala, murca kang stri.Risamangkana man gdadia ngipi mareng smaralaya, apan kasinetan tamanira Sang Hyang Asmara, Taladwaja ngaran, tuhu cakreng buwana, man gkana ulahning Smaralaksana”.

Jika sudah bergetar persendian istri, terlihat dia menikmati sensasinya, kemudian mengaduh-aduh, mendesis-desis, tersedu, jika sudah seperti itu jangan terlalu lama untuk memandang cahaya, bawa jiwa si istri pada cakra kemaluan, jangan sampai menyimpang, akan ketemu pranalingga itu, inilah sorga sakala, hilang kesadarannya.

Di saat seperti ini, ia seakan bermimpi berada di alam sorga milik Dewa Asmara (samaralaya), tubuhnya dirasuki dan akhirnya kesurupan asmara, inilah Taladwaja, ia yang mengetahui perputaran bumi, seperti itulah teknik Smarakridalaksana.

Di sini dinyatakan bahwa mereka (para suami) yang telah memahami kama tattwa (samarakridalaksana) dan telah fasih letak-letak sensasi seks istrinya, akan mampu mengantar Si istri memasuki alam sorga sakala atau sorga di dunia. Alam ini juga diistilahkan sebagai pranalingga yang letaknya di cakra kemaluan (sekitar cakra svadistana).
Kondisi ini berpijak dari mulainya istri merasakan sensasi-sensasi berkat sentuhan pada daerah windu/ G-spot, jika istri telah mendesis-desis, mengaduh, tersedu lantaran nikmatnya, hendaknya suami membawa cahaya yang terlihat kala senggama masuk menuju cakra kemaluan (penis), jika teknik ini berhasil dengan sempurna, dimana pranalingga terlihat oleh istri, maka puncak kenikmatan yang didapat oleh istri akan terasa berbeda dan orgasme umumnya (klitoral).


Orgasme ini digambarkan oleh Samarakridalaksana sebagai samaralaya atau alam sorga asmara, istri yang diberikan sensasi seks secara Samarakridalaksana ini akan menemukan rasa nikmat yang sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata. Istri bagaikan orang kesurupan asmara dan untuk sesaat ia kehilangan kesadarannya, ia terserap memasuki alam Pranalingga, Samaralaya dan kerasukan Taladwaja. Inilah sensasi kenikmatan seks yang ditawarkan oleh Samarakridalaksana, bagi mereka-mereka yang telah terikat hubungan suami istri yang suci.

Disadur dari Buku Seks Ala Bali Terbitan Baliaga 2006
Selengkapnya.....

13.10.08

Yoga Kama Dalam Rahasya Sanggama

Kulwiha kinisapu ikang stri, sukunya tumumpanga ring pupunta, tangannya karwa amekula gulunta. Tan ganta kiwa amekula walakangnya, tan gan tengen teher angremek susunya. Tangan ta ten gen anukupa baganya, anamika yan madya anguli, yan tarjini asing kenan-kenanta. Sama ngenakakna stri pinaka lwihning kinisapu, mijil ikang nan kabeh ri sor, ri ruhu, rikang mutra dagakna ya ruhur, lalita, aywa karkasa, kadi kita mamangkang. Man gkana dening mangusap weha suweya, apan kriya don kriya metwaken mar, mar metwaken muriring, muri ring metwaken murca, ngadadyaken swargapala.

Terjemahannya :

Mudra ini mengharuskan untuk memangku istri (berhadap-hadapan), kakinya ditaruh pada pangkuan (membelit pinggang suami), lalu kedua tangan istri memeluk leher suaminya, Tangan kiri suami memeluk pinggang istri, sedangkan yang kanan dipakai untuk meraba payudara si istri. (Selanjutnya) Tangan kanan dialihkan untuk memegang kemaluan, akan sangat baik jika jari-jari tangan suami di gesekkan pada klitorisnya, sedangkan jari kelingking secara sembarang agar menyentuh bagian-bagian apa Saja di vagina istri. Teori ini boleh juga anda lakukan dengan cara memangku istri dari belakang (seperti memangku anak kecil), jika nafsu istri sudah terlihat, tempel dan gesek kemaluan anda pada kemaluan istri (jangan dimasukan gesek klitorisnya), ini akan menyebabkan istri menjadi gelisah dan lupa diri, saat melakukan teknik ini jangan sampai kasar dan tergesa-gesa, bagaikan orang yang mencari kepiting (amat sabar), inilah teknik pemanasan, sebab usaha (pemanasan) inilah yang menentukan orgasme istri, pemanasan menimbulkan kegelian, kegelian menimbulkan kenikmatan, dari kenikmatan ini lahirlah sorga.


Dalam teori pemanasan di atas, seorang suami hendaknya telah hapal diluar kepala rapalan mantra Kama Rahasya sanggama.

Nihan mantraning angamel mutra wiwara : “Ong Gapataye namah swaha”, uyek-uyeken aywa karkasa, “Ong arah-arahi ri hiri ger”, apanginang swenya, ngeyukakna dening ngolah, mwang mantranya, telas sahajero pisan, saya denira ngolah, muah maring tung-tungin mutra wiwara, sapangeliwet suwenya, waluyi-waluya ikang mutra wiwara. Muah sikara pasta ring jero “ Ong Indraya namah swaha; Ong wesnazvaya nama swaha; Ong Apsariya namah, airsania; Ong Umaya namah, purwa; Ong Sitaya namah, genean; Ong Arjunaya namah, daksina; Ong Iswaraya namah, neriti; Ong Rudra jaya sangharaya namah, madia”.

Terjemahannya :

Inilah mantra ketika suami memegang vagina ‘Ong Gapataye namah swaha”, lalu klitoris dikucek-kucek jangan kasar dan tergesa-gesa mantranya berikut:
“Ong arah-arahi ri hiri ger”, lakukan teknik ini dengan durasi waktu sekinangan sirih (10 menit), setelah limit waktu terlewati masukkan jari sekali, lalu tujulah puncak dan mutra wiwara (G-spot), lakukan cara dan mantra yang sama selama kira-kira setanakan nasi, kucek-kucek G-spotnya. Ketika penis dimasukan keliang vagina mantranya berikut: “Ong
Indraya namah swaha”; “Ong Wesnawaya namah swaha”; “Ong Apsariya namah”, tusukan penis ke bagian timur laut vagina; “Ong Umaya namah”, tusukan penis ke bagian timur vagina; “Ong Sitaye namah”, tusukan penis ke bagian tenggara vagina; “Ong Arjunaya namah”, tusukan penis ke bagian selatan vagina; “Ong Iswaraya namah”, tusukan penis ke bagian barat daya vagina; “Ong Rudra Jaya Sangharaya namah”, tusukan penis ke bagian tengah vagina. (lakukan teknik ini berulang-ulang hingga istri orgasme).

Disadur dari Buku Seks Ala Bali Terbitan Baliaga 2006

Semoga Bermanfaat
Selengkapnya.....

MANUSIA PENJELMAAN KUMILIGI

Dalam teks berbentuk prasi (lontar bergambar) yang berjudul Dampati Lalangon (kesenangan suami-istri/bulan madu), dilukiskan bahwa mereka yang mengejar kepuasan seks belaka, meskipun telah terikat dalam suatu pernikahan, memiliki risiko melahirkan anak penjelmaan dari Sang Kumiligi. Kumiligi adalah roh-roh tingkat rendah yang berada di “bawah” alam manusia, kumiligi dialamnya berebut “naik” untuk bisa menjelma menjadi manusia guna menebus papa kelahirannya itu.

Dalam hukum penyempurnaan semesta, mahluk dalam tingkatan rendah akan berusaha untuk menjadi lebih sempurna, “kumiligi berusaha menjadi manusia demikian juga manusia, berusaha untuk menjadi Dewa dan Dewa berusaha untuk menyatu dengan “Brahman”.

Dalam usaha si kumiligi untuk menjadi manusia, Dewa menganugerahkan kepada mereka kesempatan menjadi manusia. Kesempatan ini akan datang apabila manusia dalam melakukan hubungan seksnya, lepas dari rambu rambu dharma dan arahan dari teks-teks Kama Tattwa.

Pasangan yang lepas dari dharma dan menganggap pelajaran seks Kama Tattwa tidak perlu untuk dipelajari dan ditauladani adalah kesempatan baik bagi si Kumiligi untuk lahir menjadi manusia, sebab mereka-mereka yang lepas dari jangkauan dharma dan tidak tahu manfaat teks Kama Tattwa, memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melakukan seks “buta” (dalam artian seks yang hanya mengejar kenikmatan belaka) dan mereka yang memahami Kama Tattwa.

Kehamilan di luar nikah merupakan kesempatan utama dan penjelmaan Kumiligi, demikian juga dengan hubungan yang dilakukan di tempat tidak layak yang akhirnya menyebabkan kehamilan.

Panca Kumiligi adalah lima macam roh tingkat rendah, diantaranya I Nguntang, I Nganting, I Bongol, I Tundik dan I Ngulaleng. I Nguntang disimbolkan dengan perwujudan tangan manusia, I Nganting dengan simbol kaki, I Bongol dengan tubuh tanpa kepala, I Tundik dengan wujud Bhuta dengan posisi tangan menunjuk, dan I Ngulaleng diwujudkan sebagai Bhuta Sungsang/ terbalik.

Jika I Nguntang dan I Nganting yang menjelma, dicirikan dengan anak yang apabila marah justru menyiksa diri sendiri; jika I Bongol yang menjelma maka anak tidak pernah menghiraukan larangan orang tua dan nasehat yang diberikan dianggap “angin lalu”; jika I Tundik yang menjelma si anak sering minta sesuatu (uang/benda) pada orang yang bertamu ke rumahnya, ciri parah dan penjelmaan I Tundik, si anak memiliki sifat suka mencuri; sedangkan jika I Ngulaleng yang menjelma, anak sering berlari keluar rumah/ke jalan dan jika sudah agak besar si anak lupa segalanya kalau sudah bermain, (lupa makan, lupa pulang dll).

Kesempatan lain bagi Kumiligi bisa menjelma menjadi manusia apabila ada pasangan manusia melakukan hubungan seks di luar norma, seperti misalnya seks di lapangan umum; di bawah pohon angker, di pinggir pantai dekat Pura, di sungai yang disucikan, dapur, tempat permandian, kandang sapi/babi, atau tempat tempat yang dianggap di luar kelayakan. Jika diaktualisasikan dengan kondisi sekarang: seks di kolam renang umum, lapangan umum, dapur, gudang, di lapangan umum, mobil, di atas kapal umum, WC, “seks satu dua”, “satu tiga” dan segala jenis hubungan seks yang dilakukan pada tempat-tempat diluar kelayakan dan etika.

Demikian juga kelahiran anak yang disebabkan oleh perselingkuhan, hamil luar nikah, pemerkosaan, kehamilan yang disebabkan oleh lebih dari satu lelaki, kehamilan yang tidak diketahui siapa yang membuahi, anak dan wanita tuna susila, wanita nakal, gigolo, lelaki play boy, kelahiran anak saat pasangannya terlibat perselingkuhan dengan PIL/WIL, dll; semua itu merupakan kesempatan “emas” bagi si Panca Kumiligi untuk menjeima menjadi manusia.

Disadur dari Buku Sex Ala Bali Terbitan Baliaga 2006
Selengkapnya.....

11.10.08

Mengenal Dunia Komputer


Media penyimpanan dan Organisasi File

Pengertian Komputer

Komputer adalah serangkaian ataupun sekelompok mesin elektronik yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan komponen yang dapat saling bekerja sama, serta membentuk sebuah sistem kerja yang rapi dan teliti. Sistem ini kemudian dapat digunakan untuk melaksanakan serangkaian pekerjaan secara otomatis, berdasar urutan instruksi ataupun program yang diberikan kepadanya.

Definisi yang ada memberi makna bahwa komputer memiliki lebih dari satu bagian yang saling bekerja sama, dan bagian-bagain itu baru bisa bekerja kalau ada aliran listrik yang mengalir didalamnya. Istilah mengenai sekelompok mesin, ataupun istilah mengenai jutaan komponen kemudian dikenal sebagai hardware komputer atau perangkat keras komputer.
Hardware komputer juga dapat diartikan sebagai peralatan pisik dari komputer itu sendiri. Peralatan yang secara pisik dapat dilihat, dipegang, ataupun dipindahkan.
Dalam hal ini, komputer tidak mungkin bisa bekerja tanpa adanya program yang telah dimasukkan kedalamnya. Program ini bisa berupa suatu prosedur peng-operasian dari komputer itu sendiri ataupun pelbagai prosedur dalam hal pemrosesan data yang telah ditetapkan sebelumnya. Dan program-program inilah yang kemudian disebut sebagai software komputer atau perangkat lunak komputer.
Dalam arti yang paling luas, software komputer bisa diartikan sebagai suatu prosedur pengoperasian. Suatu acara yang ditayangkan oleh TVRI, dapat dianggap sebagai software dari suatu peralatan televisi. Demikian pula halnya dengan musik yang telah direkam diatas kaset, data diatas kertas, serta cerita ataupun uraian yang ada didalam sebuah buku.
Secara prinsip, komputer hanyalah merupakan sebuah alat; Alat yang bisa digunakan untuk membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya. Untuk bisa bekerja, alat tersebut memerlukan adanya program dan manusia. Pengertian manusia kemudian dikenal dengan istilah brainware (perangkat manusia).
Pengertian brianware ini bisa mencakup orang-orang yang bekerja secara langsung dengan menggunakan komputer sebagai alat bantu, ataupun orang-orang yang tidak bekerja secara langsung menggunakan komputer, tetapi menerima hasil kerja dari komputer yang berbentuk laporan
Konsep hardware - software - brainware adalah merupakan konsep tri-tunggal yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Untuk tahap pertama, manusia harus memasukkan program terlebih dahulu kedalam komputer. Setelah Setelah program tersimpan didalam komputer, maka komputer baru bisa bekerja untuk membantu manusia untuk menyelesaikan persoalan ataupun pekerjaannya.
Konsep Dasar Komputer
Dari apa yang telah diuraikan dapatlah dilihat, bahwa pengertian komputer bisa ditinjau dari bermacam-macam sudut, seperti misalnya: tinjauan komputer dari generasi ke-generasi, tinjauan komputer dari sudut kapasitasnya, dan disamping itu, komputer juga dapat ditinjau dari jenis data yang diolahnya.
Walaupun demikian, secara prinsip sebuah komputer selalu memiliki sebuah konsep dasar , Komputer apapun jenisnya, selalu memiliki suatu peralatan yang disebut sebagai: Input device, Central Processing Unit, Output Device dan External memory.

a. Input Device.
Input device bisa diartikan sebagai peralatan yang berfungsi untuk memasukkan data ke-dalam komputer. Jenis input device yang dimiliki oleh komputer cukup banyak.
Dalam kehidupan sehari-hari, mata manusia juga bisa diartikan sebagai salah satu input device yang berfungsi untuk memasukkan data kedalam otak manusia. Membaca bisa diartikan sebagai memasukkan data (kedalam otak manusia) melalui mata.

b. Central Processing Unit (CPU).
Bagian ini berfungsi sebagai pemegang kendali dari jalannya kegiatan komputer, dan dikarenakan itu, CPU juga disebut sebagai otak dari komputer. Selain dari pada itu, CPU juga berfungsi sebagai tempat untuk melakukan pelbagai pengolahan data. Pekerjaan pengolahan data diantaranya: mencatat, melihat, membaca, membandingkan, menghitung, mengi-ngat, mengurutkan maupun membandingkan.
Dalam bekerja, fungsi dari CPU terbagi menjadi:
Internal Memory/Main Memory, berfungsi untuk me-nyimpan data dan program.
ALU (Arithmatic Logical Unit), untuk melaksanakan perbagai macam perhitungan.
Control Unit, bertugas untuk mengatur seluruh operasi komputer.
CPU juga disebut sebagai microprocessor. Untuk bekerja microprocessor dipengaruhi oleh kapasitas pemrosesan Bit-nya dan juga frekwensi kerjanya. Kapasitas bit untuk Microprocessor ada 8 bit, 16 bit, 32 bit dan 64 bit. Semakin tinggi bit yang dimiliki, semakin cepat pula kecepatan prosesnya. Faktor lain yang mempengaruhi adalah frekwensi kerja komputer. Semakin tinggi frekwensi yang dimilikinya, semakin tinggi pula kecepatan memprosesnya.
Microprocesor Pentium-4, telah dirilis pada akhir tahun 2000. Banyak perubahan dan peningkatan pada processor ini. Pentium-4 memiliki kecepatan proses 1.5 GHz dilengkapi dengan 42 juta transistor serta 144 perintah baru, 400 MHz frekwensi bus efektif menyebabkan kecepatan yang dimiliki adalah 20 kali lebih cepat dari generasi Pentium - 3.

c. Output Device
Output device bisa diartikan sebagai peralatan yang berfungsi untuk mengeluarkan hasil pemrosesan ataupun pengolahan data yang berasal dari CPU kedalam suatu media yang dapat dibaca oleh manusia ataupun dapat digunakan untuk penyimpanan data hasil proses. Jenis output device yang dimiliki oleh komputer cukup banyak.
Dalam kehidupan sehari-hari, menulis, juga bisa dikatakan sebagai suatu cara untuk mengeluarkan hasil pemikiran kedalam suatu media sehingga bisa dibaca oleh manusia. Media yang dipergunakan untuk menulis bisa berupa kertas ataupun bentuk lainnya.

d. External Memory.
External memory bisa diartikan sebagai memory yang berada diluar CPU. Juga disebut sebagai Secondary Storage ataupun Backing Storage ataupun Memory Cadangan yang berfungsi untuk menyimpan data dan program. Data dan program yang tersimpan didalam external memory, agar bisa berfungsi data dan program tersebut harus dipindahkan terlebih dahulu kedalam internal memory. Jenis external memory cukup banyak
Dalam kehidupan sehari-hari, buku, kertas, gambar foto, ataupun rekaman suara, juga bisa dikatakan sebagai external memory dari manusia. Dikatakan external memory karena berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan data yang terletak diluar otak manusia. Agar data-data yang ada didalam external memory tersebut bisa berfungsi bagi manusia, maka data-data tersebut, juga harus dipindahkan terlebih dahulu kedalam internal memory, misalnya dengan cara membaca.
alat yang bisa digunakan :
1. Drive CDRW: drive yang digunakan untuk membaca CD-ROM dan menulisi CD-R / CDRW.

2. Media Penyimpanan : Media penyimpanan data didalam komputer disebut sebagai memory atau storage ataupun gudang, Dalam hal ini, pengertian memory terbagi menjadi 2 (dua), yaitu: internal memory dan external memory.

* Internal memory merupakan suatu memory yang terletak didalam CPU dan karena itu sering disebut sebagai internal memory atau internal storage ataupun main memory atau memory utama atau hanya disebut sebagai memory.

* Sedangkan memory yang berada diluar CPU dikatakan sebagai external memory atau secondary storage ataupun external storage dan kadang-kadang juga disebut sebagai backing storage.
Dalam kehidupan sehari-hari, otak manusia juga bisa di-analogikan sebagai internal memory atau memory utama atau memory yang ada didalam diri manusia. Kemudian, buku, kertas, gambar foto, ataupun rekaman suara, juga bisa dikatakan sebagai external memory dari manusia. Dikatakan external memory karena berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan data yang terletak diluar tubuh manusia.
Agar data-data yang ada didalam external memory tersebut bisa berfungsi bagi manusia, maka data-data tersebut, juga harus dipindahkan terlebih dahulu kedalam internal memory, misalnya dengan cara membaca. Membaca artinya memindahkan / memasukkan data kedalam otak manusia.
Original post by s3v3n_boyz disadur oleh Agus
Selengkapnya.....

PENGERTIAN DAN FUNGSI PURA


“Para dewa tidak hanya berkenaan untuk turun dan tinggal di Tìrtha (Patìrthan), di tepi sungai, dan danau, tetapi juga di tepi pantai, pertemuan dua atau lebih sungai-sungai, dan kuala (muara sungai), di puncak-puncak gunung atau bukit-bukit, di lereng-lereng pegunungan, di hutan, di semak belukar dan kebun atau taman-taman, dekat tempat-tempat yang dirakhmati atau pertapaan, di desa-desa, kota-kota dan di tempat-tempat lain yang membahagiakan”
Tantra Samuccaya I.1.28

Pendahuluan


Pendahuluan

Pura atau kahyangan dibangun di tempat-tempat yang dianggap suci. Tempat-tempat yang dianggap suci disebutkan pada bagian awal dari tulisan ini (Tantra Samuccaya I.1.28), yakni di Tìrtha atau Patìrthan, di tepi sungai, tepi danau, tepi pantai, pertemuan dua atau lebih sungai-sungai yang di Bali disebut Campuhan, sedang di India disebut dengan nama Saògam yang mengandung makna sama, yakni bertemunya dua sungai atau lebih. Di muara sungai, di puncak-puncak gunung atau bukit-bukit, di lereng-lereng pegunungan, dekat pertapaan, di desa-desa, di kota atau pusat-pusat kota dan di tempat-tempat lain yang dapat memberikan suasana bahagia.

Dengan memperhatikan kutipan di atas, maka tiada halangan untuk membangun sebuah pura atau kahyangan di mana saja di tempat-tempat yang dipandang suci. Ada suatu yang unik, yakni tempat yang dipandang indah dan memiliki getaran spiritual yang tinggi adalah tempat yang disebut ‘hyang-hyang ning sagara giri’ atau ‘sagara-giri adomukha’, tempat bila di tepi pantai terlihat puncak-pucak gunung yang indah, sebaliknya bila berdiri di pegunungan, tampak pantai-pantai dengan gulung-gemulungnya ombak yang memukau. Tempat-tempat yang disebut ‘hyang-hyang ning sagara giri’ ini hampir dijumpai di mana saja di seantero Bali, karena pulau Bali tidak begitu luas dan ditengah-tengahnya membentang pegunungan vulkanik yang beberapa di antaranya masih aktif.

Di samping itu, di pulau yang kecil ini terdapat 4 buah danau yang besar dan kecil dan ratusan mata air yang jernih, yang menyegarkan dan mempesona siapa saja yang memiliki kepekaan dan apresiasi terhadap keindahan. Tidak mengherankan leluhur umat Hindu di Bali membangun pura di mana saja hampir di seluruh Bali dan Bernet Kempers, seofrang akhli purbakala memberi julukan pulau yang kecil ini sebagai “Land of One Thousand Temples”,pulau dengan seribu pura (1977: 73). Di samping itu berbagai julukan telah diberikan kepada pulau yang memikat ini di antaranya adalah:

“The Last Paradise on Earth”(sorga terakhir di bumi), “The Morning of the World” (paginya dunia),“The Island of Gods”(pulau dewata), “The Intresting Peacefull Island” (pulau penuh kedamaian yang sangat mempesona). Kepopuleran pulau Bali bukanlah merupakan sesuatu yang baru, sebab sejak zaman purbakala pulau ini sudah dikenal di manca negara. Keterangan tentang kemuliaan gunung Agung, yang di Bali disebut juga “To Langkir”(yang menjulang tinggi)atau di dalam bahasa Sanskåta disebut “Udaya Parvata” (gunung yang tinggi) diyakini sebagai bagian dari pegunungan Mahàmeru (yang pada zaman dahulu juga disebut Úiúira Parvata) dan nama ini sudah diungkapkan di dalam susastra Sanskåta Ràmàyaóa, pada bagian Kiûkióðha Kànda, karya agung àdikavi mahàrûi Vàlmìki, sebagai sthana para dewa (Misra,1989: VI) dan bila melihat peninggalan purbakala di daerah Goa Gajah dan Gunung Kawi, di Kabupaten Gianyar, maka jelaslah pada zaman dahulu kehidupan keagamaan masyarakat Bali sudah sedemikian mantap.

Pengertian Pura

Tuhan Yang Maha Esa dan para devatà bersthana di kahyangan atau svarga-loka, diiringi oleh para Úiddha, Vidyàdhara-Vidyàdharì. Demikian masing-masing devatà diyakini memiliki Vàhana (kendaraan) berupa binatang-binatang mitos seperti lembu, singa, angsa, garuda dan lain-lain dan sthana-Nya yang abadi adalah kahyangan atau sorga yang tempatnya jauh di atas angkasa, “vyomàntara”, yang oleh masyarakat Bali disebut “luhuring àkàúa”. Pada waktu-waktu upacara seperti piodalan dan upacara lainnya, Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi dan para devatà serta para roh suci leluhur dimohon hadir turun ke dunia untuk bersthana di sthana yang telah disediakan untuk-Nya yang disebut pura dengan aneka nama, jenis serta fungsi dari bangunan palinggihnya. Pada upacara tertentu seperti karya agung “mamungkah”,“ngalinggihang”, “ngusabha” dan sebagainya, bagi para devatà yang tidak memiliki sthana khusus di sebuah pura, dibuatkanlah sthana sementara untuk-Nya yang disebut “dangsil”, seperti meru yang sifatnya sementara terbuat dari bambu, memakai atap janur atau daun aren.

Pura seperti halnya meru atau candi (dalam pengertian peninggalan purbakala kini di Jawa) merupakan simbol dari kosmos atau alam sorga (kahyangan), seperti pula diungkapkan oleh Dr. Soekmono (1974: 242) pada akhir kesimpulan disertasinya yang menyatakan bahwa candi bukanlah sebagai makam, maka terbukalah suatu perspektif baru yang menempatkan candi dalam kedudukan yang semestinya (sebagai tempat pemujaan/pura). Secara sinkronis candi tidak lagi terpencil dari hasil-hasil seni bangunan lainnya yang sejenis dan sejaman, dan secara diakronis candi tidak lagi berdiri di luar garis rangkaian sejarah kebudayaan Indonesia. Kesimpulan Soekmono ini tentunya telah menghapus pandangan yang keliru selama ini yang memandang bahwa candi di Jawa ataupun pura di Bali sebagai tempat pemakaman para raja, melainkan sebagian pura di Bali adalah tempat suci untuk memuja leluhur yang sangat berjasa yang kini umum disebut padharman. Untuk mendukung bahwa pura atau tempat pemujaan adalah replika kahyangan dapat dilihat dari bentuk (struktur), relief, gambar dan ornament dari sebuah pura atau candi. Pada bangunan suci seperti candi di Jawa kita menyaksikan semua gambar, relief atau hiasannya menggambarkan mahluk-mahluk sorga, seperti arca-arca devatà, vahana devatà, pohon-pohon sorga (parijata, dan lain-lain), juga mahluk-mahluk suci seperti Vidàdhara-Vidyàdharì dan Kinara-Kinarì, yakni seniman sorga, dan lain-lain.

Sorga atau kahyangan digambarkan berada di puncak gunung Mahameru, oleh karena itu gambaran candi atau pura merupakan replika dari gunung Mahameru tersebut. penelitian Soekmono maupun tulian Drs. Sudiman tentang candi Lorojongrang (1969: 26) memperkuat keyakinan ini. Berbagai sumber ajaran Hindu sejak kitab suci Veda sampai susastra Hindu mengungkapkan tentang kahyangan, pura atau mandira, untuk itu kami kutipkan penjelasan tentang hal tersebut, di antaranya sebagai berikut:

Pràsàdaý yacchiva úaktyàtmakaý
tacchaktyantaiá syàdvisudhàdyaistu tatvaiá,
úaivì mùrtiá khalu devàlayàkhyetyasmàd
dhyeyà prathamaý càbhipùjyà.
Ìúànaúivagurudevapaddhati, III.12.16.

(Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Úiva dan Úakti dan Kekuatan/Prinsip Dasar dan segala Menifestasi
atau Wujud-Nya, dari element hakekat yang pokok, Påthivì
sampai kepada Úakti-Nya. Wujud konkrit (materi) Sang Hyang Úiva merupakan sthana Sang Hyang Vidhi. Hendaknya seseorang melakukan permenungan dan memuja-Nya)

Di samping hal tersebut, dengan memperhatikan pula praktek upacara yang masih tetap hidup dan terpelihara di Bali maupun di India, yakni pada saat menjelang upacara piodalan (di India disebut abhiseka), para devatà dimohon turun ke bumi, di Bali disebut “nuntun atau nedunang Ida Bhaþþàra, di India disebut avahana, sampai upacara persembahyangan dan mengembalikannya kembali ke kahyangan sthana-Nya yang abadi menunjukkan bahwa pura adalah replika dari kahyangan atau sorga.

Demikian pula bila kita melihat struktur halaman pura menunjukkan bahwa pura adalah juga melambangkan alam kosmos, jaba pisan adalah alam bhumi (bhùrloka), jaba tengah adalah bhuvaáloka dan jeroan adalah svaáloka atau sorga. Khusus pura Besakih secara keseluruhan melambangkan saptaloka (luhuring ambal-ambal) dan saptapatala (soring ambal-ambal).

Tidak sembarangan tempat dapat dijadikan tempat untuk membangun pura, dalam tradisi Bali (termuat dalam beberapa lontar) menyatakan tanah yang layak dipakai adalah tanah yang berbau harum, yang "gingsih”dan tidak berbau busuk, sedangkan tempat-tempoat yang ideal untuk membangun pura, adalah seperti disebutkan pada kutipan dari Bhaviûya Puràóa dan Båhat Saýhità, yang secara sederhana disebut sebagai “hyang-hyangning sàgara-giri”, atau “sàgara-giri adumukha”, tempatnya tentu sangat indah disamping vibbrasi kesucian memancar pada lokasi yang ideal tersebut.

Istilah pura dengan pengertian sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali, tampaknya berasal dari jaman yang tidak begitu tua. Pada mulanya istilah pura yang berasal dari kata Sanskerta itu berarti kota atau benteng yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang Widhi. Sebelum dipergunakannya kata pura untuk menamai tempat suci/tempat pemujaan dipergunakanlah kata kahyangan atau hyang. Pada jaman Bali Kuna dan merupakan data tertua ditemui di Bali, disebutkan di dalamn prasasti Sukawana A I tahun 882 M (Goris, 1964: 56).

Di dalam prasasti Turunyan A I th. 891 M ada disebutkan........................ ..........sanghyang di Turuñan” yang artinya “tempat suci di Turunyan”. Demikian pula di dalam prasasti Pura Kehen A ( tanpa tahun ) disebutkan pemujaan kepada Hyang Karimama, Hyang Api dan Hyang Tanda yang artinya tempat suci untuk dewa Karimama, tempat suci untuk dewa api dan tempat suci untuk dewa Tanda.

Prasasti-prasasti tersebut diatas adalah prasasti Bali Kuna yang memakai bahasa Bali Kuna tipe “Yumu pakatahu” yang berhubungan dengan keraton Bali Kuna di Singhamandawa. Pada abad ke X masuklah bahasa Jawa Kuna ke Bali ditandai oleh perkawinan raja putri Mahendradata dari Jawa Timur dengan raja Bali Dharma Udayana. Sejak itu prasasti - prasasti memakai bahasa Jawa Kuna dan juga kesusastraan-kesusastraan mulai memakai bahasa Jawa Kuna. Dalam periode pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042M) datanglah Mpu Ràjakåta yang menjabat Senapati i Kuturandari Jawa Timur ke Bali dan pada waktu itu yang memerintah di Bali adalah raja Marakata yaitu adik dari Airlangga. Beliaulah mengajarkan membuat "parhyangan atau kahyangan dewa " di Bali, membawa cara membuat tempat pemujaan dewa seperti di Jawa Timur, sebagaimana disebutkan di dalam rontal Usana Dewa. Kedatangan Mpu Kuturan di Bali membawa perubahan besar dalam tata keagamaan di Bali.

Mpu Kuturan mengajarkan membuat pura Sad Kahyangan Jagat Bali, membuat kahyangan pura Caturlokapàla dan Kahyangan Rwabhineda di Bali. Beliau juga memperbesar pura Besakih dan mendirikan palinggih meru, gedong dan lain-lainnya. Pada masing masing desa Pakraman dibangun Kahyangan Tiga. Selain beliau mengajarkan membuat kahyangan secara pisik, juga beliau mengajarkan pembuatannya secara spiritual misalnya: jenis-jenis upacara, jenis-jenis pedagingan palinggih dan sebagainya se bagaimana di uraikan didalam lontar Devatàttwa.

Pada jaman Bali Kuna, dalam arti sebelum kedatangan dinasti Dalem di Bali, istana-isatana raja disebut karaton atau kadaton. Demikianlah rontal Usaha Bali menyebutkan “......Úrì Danawaràja akadatwan ing Balingkang........”. Memang ada kata pura dijumpai di dalam prasasti Bali Kuna tetapi kata pura itu belum berarti tempat suci melainkan berarti kotaatau pasar, seperti kata wijayapuraartinya pasaran Wijaya.

Pemerintahan dinasti Úrì Kåûóa Kapakisan di Bali membawa tradisi yang berlaku di Majapahit. Kitab Nàgarakåtàgama 73.3 menyebutkan bahwa apa yang berlaku di Majapahit diperlakukan pula di Bali oleh dinasti Úrì Kåûóa Kapakisan.

Salah satu contoh terlihat dalam sebutan istanaraja bukan lagi disebut karatonmelainkan disebut pura.Kalau di Majapahit kita mengenal istilah Madakaripurayang berarti rumahnya Gajah Mada, maka karaton Dalem di Samprangan disebut Linggarsapura.Karatonnya diGelgel disebut Suwecapuradan karatonnya di Klungkung disebut Smarapura. Rupa-rupanya penggunaan kata pura untuk menyebutkan suatu tempat suci dipakai setelah dinasti Dalem di Klungkung di samping juga istilah kahyangan masih dipakai. Dalam hubungan inilalu kata pura yang berarti istana rajaatau rumah pembesar pada waktu itu diganti dengan kata puri.

Pada periode pemerintahan Dalem Baturenggong di Gelgel (1460 - I 550 M ) datanglah Dang Hyang Nirartha di Bali pada Tahun 1489 M adalah untuk mengabadikan dan menyempumakan kehidupan agama Hindu di Bali. Beliau pada waktu itu menemui keadaan yang kabur sebagai akibat terjadinya peralihan paham keagamaan dari paham-paham keagamaan sebelum Mpu Kuturan ke paham-paham keagamaan yang diajarkan olch Mpu Kuturan yakni: antara pemujaan dewa dengan pemujaan roh leluhur, sehingga dikenal adanya pura untuk dewa dan pura untak roh suci leluhur yang sulit dibedakan secara fisik(Ardana, 1988:20).

Demikian pula bentuk-bentuk palinggih, ada meru dan gedong untuk dewa dan meru dan gedong untuk roh suci leluhur. Terdapat juga kekaburan di bidang tingkat atap meru, misalnya ada meru untuk roh suci leluhur bertingkat 7 dan meru untuk dewa bertingkat 3. Hal ini secara fisik sulit untuk dibedakan, walaupun perbedaannya, terdapat pada jenis padagingannya. Hal itulah yang mendorong Dang Hyang Nirartha membuat palinggih berbentuk padmàsanauntuk memuja Hyang Widhi, dan sekaligus membedakan palinggib pemujaan dewa serta roh suci leluhur.

Dalam perkembangan lebih lanjut kata puradigunakan di samping kata kahyanganatau parhyangandcngan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi (dengan segala manifestasinya ) dan bhaþàra atau dewapitara yaitu roh suci leluhur. Kendatipun demikian namun kini masih dijumpai kata pura yang digunakan untuk menamai suatu kota misainya Amlapura atau kota asem (bentuk Sanskertanisasi dari karang asem ).

Meskipun istilah pura sebagai tempat suci berasal dari jaman yang tidak begitu tua, namun tempat pemujaannya sendiri berakar dan mempunyai latar belakang alam pikiran yang bcrasal dari masa yang amat tua. Pangkalnya adalah kebudayaan Indonesia asli berupa pemujaan terhadap arwah leluhur di samping juga pemujaan terhadap kekuatan alam yang maha besar yang telah dikenalnya pada jaman neolithikum, dan berkembang pada periode megalithikum,sebelum kcbudayaan India datang di Indonesia.

Salah satu tempat pemujaan arwah leluhur pada waktu itu berbentuk punden berundak-undakyang diduga sebagai replika (bentuk tiruan) dari gunung,karena gunung itu dianggap sebagai salah satu tempat dari roh leluhur atau alam arwah. Sistim pemujaan terhadap leluhur tersebut kemudian berkembang bersama-sama dengan berkembangnya kebudayaan Hindu di Indonesia. Perkembangan itu juga mengalami proses akulturasi dan enkulturasi sesuai dengan lingkungan budaya Nusantara.

Kepercayaan terhadap gunung sebagai alam arwah,adalah relevan dengan unsur kebudayaan Hindu yang menganggap gunung (Mahameru ) sebagai alam devatà yang melahirkan konsepsi bahwa gunung selain dianggap sebagai alam arwah juga sebagai alam para dewa. Bahkan dalam proses lebih lanjut setelah melalui tingkatan upacara keagamaan tertentu (upacara penyucian) roh suci leluhurdapat mencapai tempat yang sama dan dipuja bersama-sama dalam satu tempat pemujaan dengan dewa yang lazimnya disebut dengan istilah Àtmàúiddhadevatà.

Lebih lanjut kadang kadang dalam proses itu unsur pemujaan leluhur kelihatan melemah bahkan seolah-olah tampak sebagai terdesak, namun hakekatnya yang essensial bahwa kebudayaan Indonesia asli tetap memegang kepribadiannnya yang pada akhimya unsur pemujaan leluhur tersebut muncul kembali secara menonjol dan kemudian secara pasti tampil dan berkcmbang bersama - sama dengan unsur pemujaan terhadap dewa Penampilannya selalu terlihat pada sistim kepercayaan masyarakat Hindu di Bali yang menempatkan secara bersama sama pemujaan roh leluhur sebagai unsur kcbudayaan Indonesia asli dengan sistcm pemujaan dewa manifcstasinya Hyang Widhi sebagai unsur kcbudayaan Hindu. Pentrapannya antara lain tcrlihat pada konsepsi pura sebagai tempat pemujaan untuk dewa manifestasi Hyang Widhi di samping juga untuk pemujaan roh leluhur yang disebut bhatara. Hal ini membcrikan salah satu pengcrtian bahwa Pura adalah simbul gunung (Mahameru) tempat pemujaan dcwa dan bhaþþàra.

Pengelompokan Pura

Dari berbagai jenis pura di Bali dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi/dewa dan bhaþàra, dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya:

1). Pura yang berfungsi sebagai tcmpat untuk memuja Hyang Widhi, para devatà.
2). Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja bhaþàra yaitu roh suci leluhur.

Selain kelompok pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut di atas, bukan tidak mungkin terdapat pula pura yang berfungsi gandayaitu sclain untuk memuja Hyang Widhi/dewa juga untuk memuja bhaþàra. Hal itu di mungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa sctelah melalui upacara penyucian, roh leluhur tesebut telah mencapai tingkatan úiddhadevatà(telah memasuki alam devatà ) dan disebut bhaþàra.

Fungsi pura tcrscbut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan ) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti: ikatan sosial, politik, ekonomis, genealogis (garis kelahiran). Ikatan sosial antara lain berdasarkan ikatan wilayah tempat tinggal (teritorial), ikatan pengakuan atas jasa seorang guru suci (Dang Guru), ikatan politik di masa yang silam antara lain berdasarkan kepentingan penguasa dalam usaha menyatukan masyarakat dan wilayah kekuasaannya. Ikatan ekonomis antara lain dibedakan atas dasar kepentingan sistem mata pencaharian hidup seperti bertani, nelayan , berdagang, nelayan dan lain-lainnya. Ikatan geneologis adalah atas dasar garis kelahiran dengan perkembangan lebih lanjut.

Berdasarkan atas ciri-ciri tersebut (Titib, 2003: 96-100), maka terdapat beberapa kelompok pura dan perinciannya lebih lanjut berdasarkan atas karakter atau sifat kekhasannya adalah sebagai berikut.

1) Pura Umum

Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (dewa). Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga sering disebut Kahyangan Jagat Bali. Pura-pura yang tcrgolong mempunyai ciri-ciri tersebut adalah pura Besakih, pura Batur, pura Caturlokapàla dan pura Sadkahyangan. Pura lainnya yang juga tergolong pura umum adalah pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang pandita guru suci atau Dang Guru.

Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu, karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut åûiåóa. Pura pura tersebut ini tergolong kedalam karakter yang disebut Dang Kahyangan seperti: pura Rambut Siwi, pura Purancak, pura Pulaki, pura Ponjok Batu, pura Sakenan, pura Úìlayukti, pura Lempuyang Madya dan lain-lainnya. Pura-pura tersebut berkaitan dengan dharmayàtrà yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha, paúraman Mpu Kuturan dan Mpu Agnijaya karena peranannya sebagai Dang Guru.

Selain pura-pura yang dihubungkan dengan Dang Guru, tergolong pula ke dalam ciri Dang Kahyangan adalah pura-pura yang dihubungkan dengan pura tempat pemujaan dari kerajaan yang pernah ada di Bali (Panitia Pemugaran tempat-tempat bersejarah dan peninggalan purbakala, 1977: 10) seperti pura Sakenan, yang merupakan pura kerajaan Kesiman, pura Taman Ayun yang merupakan pura kerajaan Mengwi. Ada tanda-tanda bahwa masing-masing kerajaan yang pemah ada di Bali, sekurang kurangnya mempunyai satu jenis pura, yaitu: pura Penataran yang terletak di ibu kota kerajaan, pura puncak yang ter!etak di puncak bukit atau pegunungan dan pura Segara yang terletak di tepi pantai laut. Pura-pura kerajaan tersebut rupa-rupanya mewakili tiga jenis tempat pemujaan yaitu: pura gunung, pura pusat kerajaan dan pura laut. Pembagian mandala atas gunung, daratan dan laut sesuai benar dengan pembagian makrokosmos menjadi dunia atas atau uranis, dunia tengah tempat manusia itu hidup dan dunia bawah atau chithonis.

2) Pura Teritorial

Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah (teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat ikat oleh kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa tersebut. Wilayah banjar sebagai kelompok sub kelompok dari masyarakat desa adat ada yang memiliki pura tersendiri. Ciri khas suatu desa adat pada dasamya memiliki tiga buah pura disebut Kahyangan Tiga, yaitu: pura Desa, pura Puseh, pura Dalem yang merupakan tempat pemujaan bersama. Dengan lain perkataan, bahwa Kahyangan Tiga itulah merupakan unsur mengikat kesatuan desa adat bersangkutan. Nama-nama kahyangan tiga ada juga yang bervariasi pada beberapa desa di Bali, pura Desa sering juga disebut pura Bale Agung. Pura Puseh juga disebut pura Segara, bahkan pura Puseh desa Besakih disebut pura Banua.

Pura Dalem banyak juga macamnya. Namun pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah pura Dalem yang memiliki setra (kuburan). Di samping itu banyak juga terdapat pura yang disebut Dalem, tetapi bukan merupakan pura sebagai unsur Kahyangan Tiga di antaranya: pura Dalem Maspahit, pura Dalem Canggu, pura Dalem Gagelang dan sebagainya (Panitia Pemugaran Tempat- tempat bersejarah dan peninggalan Purbakala, 1977,12). Di dekat pura Watukaru terdapat sebuah pura yang bernama pura Dalem yang tidak merepunyai hubungan dengan pura Kahyangan Tiga, melainkan dianggap mempunyai hubungan dengan pura Watukaru. Masih banyak ada pura Dalem yang tidak mempunyai kaitan dengan Kahyangan Tiga seperti pura Dalem Puri mempunyai hubungan dengan pura Besakih. Pura Dalem Jurit mempunyai hubungan dengan pura Luhur Uluwatu.

3) Pura Fungsional

Pura ini mempunyai karakter fungsional, umat panyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan karena mempunyai, profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian bidup seperti: bertani, berdagang dan nelayan. Kekaryaan karena bertani, dalam mengolah tanah basah mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Empelan yang sering juga disebut pura Bedugul atau pura Subak. Dalam tingkatan hirarkhis dari pura itu kita mengenal pura Ulun Carik, pura Masceti, pura Ulun Siwi dan pura Ulun Danu. Apabila petani tanah basah mempunyai ikatan pcmujaan seperd tersebut diatas, maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Alas Angker, Alas Harum, Alas Rasmini dan lain sebagainya.
Berdagang merupakan salah satu sistim mata pencaharian hidup menyebabkan adanya ikatan pemujaan dalam wujud pura yang disebut pura Melanting. Umumnya pura Melanting didirikan didalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.

4) Pura Kawitan

Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau lcluhur berdasarkan garis kelabiran (genealogis). Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebib luas dari pura milik warga atau pura klen. Dengan demikian mika pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing-masing warga atau kelompok kekerabatan. Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan diri berasal dari nenek moyang yang sama. Klen ini mcmpunyai tempat pemujaan yang discbut pura Dadya sehingga mereka disebut tunggal Dadya. Keluarga inti disebut juga keluarga batih (nuclear family ) dan keluarga luas terdiri lebih dari satu keluarga inti yang juga disebut keluarga besar (extended family). Suatu keluarga inti terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak-anak mereka yang belum kawin .

Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut sanggah atau marajan yang juga disebut kamulan taksu, sedangkan tempat pemujaan kciuarga luas disebut sanggah gede atau pamarajan agung. Klen besar merupakan kelompok kerabat yang lebih luas dari klen kecil (dadya) dan terdiri dari beberapa kelompok kerabat dadya. Anggota kelompok kerabat tcrsebut mempunyai ikatan tempat pemujaan yang disebut pura paibon atau pura panti. Di beberapa daerah di Bali, tempat pemujaan seperti itu, ada yang menyebut pura Batur (Batur Klen), pura Penataran (Penataran Klen) dan sebagainya. Didalam rontal Úiwàgama, disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat pura panti, setiap 20 keluarga batih patut mendirikan pura lbu, setiap 10 keluarga batih supaya membuat palinggih Påtiwì dan setiap keluarga batih membuat palinggih Kamulan yang kesemuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci. Tentang pengelompokan pura di Bali ini , dalam Seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu ke X tanggal 28 sampai dengan 30 Mei 1984 ditetapkan pengelompokan pura di Bali sebagai berikut :

1). Berdasarkan atas Fungsinya :
(a). Pura Jagat, yaitu pura yang berfungsi sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala prabawa-Nya (manifestasi-Nya).
(b). Pura kawitan, yaitu pura sebagai tempat suci untuk memuja “Àtmàúiddhadevatà“ (roh suci leluhur).

2). Berdasarkan atas Karakterisasi nya
(a). Pura Kahyangan Jagat, yaitu pura tempat memuja Sang Hyang Widhi dalam aneka prabhawa-Nya misalnya pura Sad Kahyangan dan pura Kahyangan Jagat.
(b). Pura Kahyangan Desa (teritorial )yaitu pura yang disungsung (dipuja dan dipelihara) oleh desa Pakraman atau desa Adat.
(c). Pura Swagina (pura fungsional)yaitu pura yang penyungsungnya terikat oleh ikatan swagina (kekaryaan) yang mempunyai profesi sama dalam mata pencaharian seperti: pura Subak, Melanting dan sebagainya .
(d). Pura Kawitan,yaitu pura yang penyungsungnya ditcntukan oleb ikatan "wit" atau leluhur berdasarkan garis (vertikal geneologis) seperti: sanggah, pamarajan, ibu, panti, dadya, batur, panataran, padharman dan yang sejenisnya.

Pengelompokan pura di atas jelas berdasarkan Úraddhà atau Tatwa agama Hindu yang berpokok pangkal konsepsi ketuhanan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasi atau prabhawa-Nya dan konsepsi Àtman manunggal dengan Brahman (Àtmàúiddhadevatà) menyebabkan timbulnya pemujaan pada roh suci leluhur, oleh karena itu pura di Bali ada yang disungsung oleh seluruh lapisan masyarakat di samping ada pula yang disungsung oleh keluarga atau klen tertentu saja.

Struktur Pura

Pada umumnya struktur atau denah pura di Bali dibagi atas tiga bagian, yaitu: jabapura atau jaba pisan (halaman luar), jaba tengah (halaman tengah) dan jeroan (halaman dalam). Di samping itu ada juga pura yang terdiri dari dua halaman, yaitu: jaba pisan (halaman luar) dan jeroan (halaman dalam) dan ada juga yang terdiri dari tujuh halaman (tingkatan) seperti pura Agung Besakih. Pembagian halaman pura ini, didasarkan atas konsepsi macrocosmos (bhuwana agung), yakni : pembagian pura atas 3 (tiga) bagian (halaman) itu adalah lambang dari "triloka", yaitu: bhùrloka (bumi), bhuvaáloka (langit) dan svaáloka (sorga). Pembagian pura atas 2 (dua) halaman (tingkat) melambangkan alam atas (urdhaá) dan alam bawah (adhaá), yaitu àkàúa dan påtivì.

Sedang pembagian pura atas 7 bagian (halaman) atau tingkatan melambangkan "saptaloka" yaitu tujuh lapisan/tingkatan alam atas, yang terdiri dari: bhùrloka, bhuvaáloka, svaáloka, mahàoka, janaloka, tapaloka dan satyaloka. Dan pura yang terdiri dari satu halaman adalah simbolis dari "ekabhuvana" , yaitu penunggalan antara alam bawah dengan alam atas. Pembagian halaman pura yang pada umumnya menjadi tiga bagian itu adalah pembagian horizontal sedang pembagian (loka) pada palinggih-palinggih adalah pembagian yang vertikal. Pembagian horizontal itu melambangkan "prakåti" (unsur materi alam semesta) sedangkan pembagian yang vertikal adalah simbolis "puruûa" (unsur kejiwaan/spiritual alam semesta). Penunggalan konsepsi prakåti dengan puruûa dalam struktur pura adalah merupakan simbolis dari pada "Super natural power". Hal itulah yang menyebabkan orang orang dapat merasakan adanya getaran spiritual atau super natural of power (Tuhan Yang Maha Esa ) dalam sebuah pura.

Sebuah pura di kelilingi dengan tembok (bahasa Bali = penyengker ) scbagai batas pekarangan yang disakralkan. Pada sudut-sudut itu dibuatlah "padurakûa" (penyangga sudut) yang berfungsi menyangga sudut-sudut pekarangan tempat suci (dikpàlaka ).

Sebagian telah dijelaskan di atas, pada umumnya pura-pura di Bali terbagi atas tiga halaman, yaitu yang pertama disebut jabaan (jaba pisan) atau halaman depan/luar, dan pada umumnya pada halaman ini terdapat bangunan berupa "bale kulkul" (balai tempat kentongan digantung), “bale wantilan" (semacam auditorium pementasan kesenian, "bale pawaregan" (dapur) dan “jineng" (lumbung). Halaman kedua disebut jaba tengah (halaman tengah biasanya berisi bangunan "bale agung" (balai panjang) dan “bale pagongan" (balai tempat gamelan). Halaman yang ketiga disebut jeroan (halaman dalam), halaman ini termasuk halaman yang paling suci berisi bangunan untuk Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa manifestasi-Nya. Di antara jeroan dan jaba tengah biasanya dipisahkan oleh candi kurung atau kori agung.

Sebelum sampai ke halaman dalam (jeroan) melalui kori agung, terlebih dahulu harus memasuki candi bentar, yakni pintu masuk pertama dari halaman luar (jabaan atau jaba pisan) ke halaman tengah (jaba tengah). Candi bentar ini adalah simbolis pecahnya gunung Kailaúa tempat bersemadhinya dewa Úiva. Di kiri dan kanan pintu masuk candi bentar ini biasanya terdapat arca Dvàrapala (patung penjaga pintu, dalam bahasa Bali disebut arca pangapit lawang), berbentuk raksasa yang berfungsi sebagai pengawal pura terdepan. Pintu masuk kehalaman dalam (jeroan) di samping disebut kori agung, juga dinamakan gelung agung. Kori Agung ini senantiasa tertutup dan baru dibuka bila ada upacara di pura. Umat penyungsung(pemilik pura) tidak menggunakan kori agung itu sebagai jalan keluar-masuk ke jeroan, tetapi biasanya menggunakan jalan kecil yang biasanya disebut "bebetelan", terletak di sebelah kiri atau kanan kori agung itu.

Pada bagian depan pintu masuk (kori agung) juga terdapat arca Dvàrapàla yang biasanya bermotif arca dewa-dewa (seperti Pañca Devatà). Di atas atau di ambang pintu masuk kori agung terdapat hiasan kepala raksasa, yang pada pura atau candi di India disebut Kìrttimukha, pada arnbang candi pintu masuk candi Jawa Tengah discbut Kàla, pada ambang candi di Jawa Timur disebut Banaspati dan di Bali discbut Bhoma. Cerita Bhoma atau Bhomàntaka (matinya Sang Bhoma ) dapat dijumpai dalam kakawin Bhomàntaka atau Bhomakawya. Bhoma adalah putra dewa Viûóu dengan ibunya dewi Påtivì yang berusaha mengalahkan sorga. Akhimya ia dibunuh oleh Viûóu sendiri. Kepalanya yang menyeringai ini dipahatkan pada kori agung. Mcnurut cerita Hindu, penempatan kepala raksasa Bhoma atau Kìrttimukha pada kori agung dimaksudkan supaya orang yang bermaksud jahat masuk kedalam pura, dihalangi oleh kekuatan raksasa itu. Orang-orang yang berhati suci masuk kedalam pura akan memperoleh rakhmat-Nya.

KeSimpulan

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat ditarik simpulan bahwa pura adalah tempat suci, tempat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa, para devatà dan roh suci leluhur. vaýúakarta) yang diyakini telah mencapai alam kesucian (svarga). Di samping itu pengelompokkan pura juga dibedakan atas pura umum, pura teritorial, pura fungsional, dan pura kawitan (pura untuk memuja pendiri dinasti).

Berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi Pura Jagat dan Pura Kawitan, sedangkan berdasarkan karakternya dibedakan menjadi Pura Kahyangan Jagat, Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina (pura fungsional) dan Pura Kawitan. Berdasarkan struktur pura dibedakan pura dengan 3 halaman (Jeroan, Jaba Tengah dan Jaba Sisi) yang melambangkan Tribhuwana (Svah, Bhuvah, dan Bhurloka), 2 halaman (Jeroan dan Jabaan) yang melambangkan alam sorga dan bumi dan yang satu halaman saja yang melambangkan alam sorga. Pura dengan 3 halaman pada umumnya untuk pura yang besar (Kahyangan Jagat) sedangn pura dengan 2 atau satu halaman pada umumnya utuk pura Kawitan atau pura keluarga.

Pura dibedakan berdasarkan pengelompokkan peruntukannya, yaitu pura sebagai tempat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa atau para devatà manifestasi-Nya dan pura untuk memuja roh suci para leluhur, utamanya roh suci para mahàrûi (àchàrya) dan pendiri dinasti.

Daftar Pustaka :

Ardana, I Gusti Gde. 1982. Sejarah Perkembangan Hinduisme di Bali. Denpasar: tanpa penerbit.

Kempers, A. J. Bernet. 1959. Monumental Bali. Den Haag: Van Goor Zonen.

Covarubias, Miguel. 1989. Island of Bali. Kualalumpur: Oxford University Press.

Goris, Roelof. 1954. Prasasti Bali, I. Bandung: Masa Baru.

Mishra, Rajendra.1989.Sejarah Kesusastraan Sanskåta, Denpasar: Publisher.

Soekmono, 1974. Candi Fungsi dan Pengertiannya. Disertasi dalam Ilmu-ilmu Sastra Universitas Indonesia, 27 April 1974. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pandidikan dan Kebudayaan.

Sudiman. 1969. Candi Lorojongrang. Yogyakarta: Kanisius.

Titib, I Made. 2003. Teologi dan Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu. Surabaya: Penerbit Paramita.

Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu ke X tanggal 28 sampai dengan 30 Mei 1984.

Ditulis oleh Prof. I Made Titib Ph. D
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Selengkapnya.....

CATUR MARGA


Catur Marga adalah empat jalan/cara, Catur Yoga adalah empat cara mempersatukan diri dengan Tuhan.
Ajaran Tri Marga, Catur Marga dan Catur Yoga sangat berdekatan, hanya berbeda istilanya saja. Marga berarti jalan sedangkan Yoga berarti penyatuan, penghubungan yang berasal dari kata “Yuj” yang artinya berhubungan.
Ajaran Tri Marga, Catur Marga dan Catur Yoga adalah sama, hanya sebutannya yang berbeda.

1. Jnana Marga Yoga
Jnana artinya kebijaksanaan filsafat atau ilmu pengetahuan. Jadi Jnana Marga Yoga adalah jalan untuk mencapai persatuan Atman dan Brahman berdasarkan atas ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan filsafat kebenaran.
Menurut Upanisad pengetahuan seorang bijaksana (Jnanin) dapat dibagi atas dua bagian yaitu Apara Widya dan Pari Widya. Apara Widya adalah pengetahuan dalam tingkat kemewahan suci (ajaran-ajaran suci Weda) sedangkan Pari Widya adalah pengetahuan tingkat tinggi tentang hakikat kebenaran Atman dan Brahman. Jadi Apara Widya adalah dasar untuk mencapai Pari Widya. Seorang Jnanin memiliki pengetahuan untuk mencapai kebenaran yang sempurna, dengan Wiweka (logika) yang dalam mereka benar-benar bisa membedakan yang kekal dan tidak kekal, sehingga bisa melepaskan yang tidak kekal dan mencapai kekekalan yang sempurna.
“Alangkah cepat dan pendeknya kehidupan sebagai manusia ini, tak bedanya dengan sinarnya kilat dan sangat susah pula untuk didapat. Oleh karena itu berusaha benar-benarlah untuk berbuat (sadhana) berdasarkan kebenaran (dharma) untuk menghapuskan kesengsaraan hidup guna mencapai sorga” (Sarasamuscaya II-14)
“Ia yang pikirannya tidak digoyahkan dalam keadaan dukacita dan bebas dari keinginan-keinginan ditengah-tengah kesukacitaan, ia yang dapat mengatasi nafsu, kesesatan dan kemarahan, ia disebut seorang yang bijaksana” (Bhagawad Gita II-56)

2. Karma Marga Yoga
Karma adalah perbuatan. Jadi Karma Marga Yoga adalah jalan untuk mencapai kesatuan atman dan Brahman melalui kerja atau perbuatan tanpa ikatan, tanpa pamrih, tulus dan ikhlas, penuh dengan amal kebajikan dan pengorbanan.
Dalam Karma Marga Yoga, perbuatan dan kerja merupakan suatu pengembalian dengan melepaskan segala hasil atau buah dari segala perbuatan dan segala yang dikerjakannya. Dengan melakukan amal kebajikan tanpa pamrih, akan dapat mengembalikan emosi dan melepaskan atma dari ikatan duniawi.
Seorang Karmin dapat melepaskan diri dari ikatan karma wasana dan karma phala nya, terbebas dari unsur-unsur maya, sehingga mencapai kesempurnaan dan kebebasan tertinggi (moksa)
“Bukan dengan jalan tiada bekerja, orang dapat mencapai kebebasan dari perbuatan. Juga tidak hanya melepaskan diri dari pekerjaan, orang akan mencapai kesempurnaannya." (Bhagawad Gita III-4)
“Serahkanlah segala pekerjaan kepadaku, dengan memusatkan pikiran kepada atma, melepaskan diri dari pengharapan dan perasaan keakuan, dan berjuanglah kamu, bebas dari pikiranmu yang susah” (Bhagawad Gita III-30)
“Bekerjalah kamu selalu, yang harus dilakukan dengan tiada terikat olehnya, karena orang mendapat tujuannya yang tertinggi dengan melakukan pekerjaan yang tak terikat olehnya” (Bhagawad Gita III-19)
Jadi seorang Karmin dalam kehidupannya selalu bekerja tanpa pamrih, mengutamakan pengabdian dan pengorbanan, sehingga hidupnya tidak akan mungkin sia-sia di dunia ini, sebab phala pengorbanan dan pengabdiannya mendapatkan kesempurnaan lahir bathin dan moksa.

3. Bakti Marga Yoga
Bakti adalah cinta, dalam hal ini Bhakti adalah cinta yang mendalam kepada Tuhan. Jadi Bakti Marga Yoga adalah jalan untuk mencapai kebebasan dan kesatuan atman dan Brahman berdasarkan atas cinta dan sujud bakti terhadap Tuhan.
Orang suci melakukan sujud bakti atas dasar kecintaannya yang suci murni, tulus ikhlas terhadap Tuhan akan mendapatkan penerangan suci karena Tuhan merahmatkan tuntunan kepadanya sehingga bakti tersebut melekat dan membathin berdasarkan ajaran Tuhan, bebas dari segala noda dan dosa.
Seorang Bhakta tidak mungkin akan melakukan perbuatan jahat atau buruk dan segala hasil usahanya semua diperuntukkan kepada Tuhan.
“Orang saleh yang menyembah aku adalah empat macam yaitu, orang yang mencari kekayaan, orang yang bijaksana, orang yang mencari pengetahuan dan orang yang dalam keadaan susah, Oh Arjuna” (Bhagawad Gita VII-16)
“Diantara ini, orang yang bijaksana yang selalu terus menerus bersatu dengan Hyang Suci, kebaktiannya terpusat hanya kesatu arah (Tuhan) adalah yang terbaik. Sebab aku kasih sekali kepadanya dan dia kasih kepadaku” (Bhagawad Gita VII-17)
“Dengan bentuk apapun juga mereka bakti kepadaku (Bhakta), yang dengan kepercayaan bermaksud menyembah aku (dengan Sraddha), kepercayaan itu aku tegakkan” (Bhagawad Gita VII-21)
Diantara jalan dan cara yang ditempuh oleh umat manusia untuk mencapai kebebasan yang sempurna dan persatuan atman dan brahman, maka jalan Bakti Marga Yoga adalah jalan yang paling mudah dan banyak dilakukan/ditempuh oleh manusia untuk mencapai tujuan hidupnya.
Yang terpenting bagi seorang Bhakta adalah penyerahan diri sepenuhnya dan sujud bhakti pada Tuhan.

4. Raja Marga Yoga
Raja Marga Yoga adalah jalan untuk mencapai kebebasan yang sempurna berdasarkan pelaksanaan Tapa Brata Yoga Semadhi.
Tapa dan Brata merupakan suatu latihan untuk mengendalikan emosi (nafsu) sedangkan Yoga dan Semadhi adalah latihan untuk dapat menyatukan atman dengan brahman (Tuhan) dengan melakukan konsentrasi yang setepat-tepatnya dalam ketenangan suasana semadhi yang sempurna.
Seorang Raja Yoga akan dapat menghubungkan dirinya dengan Tuhan misalnya dengan melakukan Astangga Yoga yaitu delapan jalan untuk melakukan Yoga untuk mencapai Moksa, yaitu :

a. Yama (Larangan)
yaitu disiplin penahanan diri terhadap keinginan atas nafsu.

b. Nyama (Suruhan)
yaitu beradat yang baik dengan memupuk kebiasaan-kebiasaan yang baik.

c. Asana
yaitu mengatur sikap duduk yang baik

d. Pranayama
yaitu mengatur pernafasan yang sempurna dan teratur. Puraka (menarik nafas), Kumbaka (menahan nafas), Recaka (menghembuskan nafas).

e. Pratyahara
yaitu mengontrol dan mengembalikan semua indrya, sehingga dapat melihat sinar-sinar suci.

f. Dharana
yaitu usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan.

g. Dhyana
yaitu usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan yang tarafnya lebih tinggi daripada Dharana.

h. Semadhi
yaitu persatuan Atman dengan Brahman (Tuhan).

Lima yang pertama merupakan bantuan luar daripada Yoga. Dengan melakukan Astangga Yoga, seorang Raja Yoga (Yogin) akan dapat menerima wahyu (Sruti) melalui pengamatan intuisinya yang telah mekar dan dapat pula mengalami Jiwan Mukti, dan selanjutnya setelah meninggal atmanya akan bersatu dengan Tuhan.
“Seorang Yogin harus tetap memusatkan pikirannya kepada atma yang maha besar (Tuhan), tinggal dalam kesunyian dan tersendiri, bebas dari angan-angan dan keinginan untuk memilikinya” (Bhagawad Gita VI-10)
“Karena kebahagiaan tertinggi datang pada Yogin, yang pikirannya tenang, yang nafsunya tidak bergolak, yang keadaannya bersih dan bersatu dengan Tuhan (Moksa)” (Bhagawad Gita VI-27)

Demikianlah cara atau jalan yang dapat dituruti, dilaksanakan oleh manusia sebagai tuntunan baginya untuk mencapai tujuan hidupnya yakni menikmati kesempurnaan hidup yang disebut Moksa.

Keempat jalan dan cara diatas semuanya adalah sama, tiap-tiap jalan meletakkan dasar dan cara-cara tersendiri. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya baik dan utama, tergantung kepribadian, watak, kesanggupan dan bakat manusia masing-masing. Semuanya akan mencapai tujuannya asal dilakukan dengan pernuh kepercayaan, ketekunan dengan tulus ikhlas, kesujudan, keteguhan iman dan tanpa pamrih.
“Dengan jalan bagaimanapun ditempuh oleh manusia ke arahku, semuanya aku terima dan memenuhi keinginan mereka, melalui banyak jalan manusia menuju jalanku, Oh Prtha” (Bhagawad Gita V-2)

ditulis Oleh Kelihan Banjar

Selengkapnya.....

Makna dari Telinga Berdenging


Telinga Berdenging Bukan Hal Biasa, namun secara Primbon Jika telinga berdenging memiliki arti tersendiri, dan berikut adalah Makna dari TElinga berdenging :

Telinga sebelah kanan berdenging antara pada jam 06-07 pagi hari bermakna akan mendapat kabar buruk.

antara jam 07 - 08 pagi hari bermakna akan difitnahkan orang yang menjadikan guncingan orang.

antara jam 08 - 09 pagi hari bermakna akan berencana pergi jauh dan entah itu sendiri atau bersama orang lain.


antara jam 09 - 10 pagi hari bermakna akan ada berita yang kurang menyenangkan tentang keluarga.

antara jam 10 - 11 pagi hari bermakna akan ada penghalang dari rencana perjalanan anda sebaiknya ditunda atau dibatalkan dulu.

antara jam 11 - 12 siang hari bermakna akan ada khabar yang kurang mengenakkan yang datangnya bersamaan dengan surat yang akan diterima dalam waktu dekat.

antara jam 12 - 13 siang hari bermakna akan ada saudara jauh yang datang dengan membawa cerita lama.

antara jam 13 - 14 siang hari bermakna akan ada ajakan maka-makan.

antara jam 14 - 15 siang hari bermakna akan ada sesuatu yang membahayakan anda dalam waktu dekat.

antara jam 15 - 16 sore hari bermakna akan ada berita dari keluarga yang entah itu yang menyenangkan atau menyedihkan.

antara jam 16 - 17 sore hari bermakna akan ada perjalanan jauh yang akan anda lakukan dalam waktu dekat.

antara jam 17 - 18 sore hari bermakna anda sedang menjadi pembicaraan banyak orang.

antara jam 18 - 19 sore hari bermakna akan ada sesuatu yang berharga pergi meninggalkan anda.

antara jam 19 - 20 malam hari bermakna akan mendapat berita buruk dari kalangan sendiri.

antara jam 20 - 21 malam hari bermakna akan ada keberuntungan yang besar untuk anda.
antara jam 21- 22 malam hari bermakna akan ada yang mengancam anda.

antara jam 22 -23 malam hari bermakna akan ada berita yang baik datang kepada anda.

antara jam 23 - 24 malam hari bermakna akan ada seseorang yang jatuh cinta.

antara jam 24 - 01 pagi hari bermakna akan ada sesuatu wejangan yang diberikan oleh orang tua.

antara jam 01- 02 pagi hari bermakna akan ada perselisihan antara kerabat sendiri.

antara jam 02- 03 pagi hari bermakna segala perjalanan yang ada kerjakan akan selamat sampai tujuan.

antara jam 03- 04 pagi hari bermakna akan ada yang sesuatu yang hilang yang anda nilai sangat berharga.

antara jam 04- 05 pagi hari bermakna akan ada sesuatu yang merugikan anda jika anda seorang pekerja anda akan diberi peringatan dari pimpinan.

antara jam 05- 06 pagi hari bermakna akan ada orang yang akan mencelakakan anda.
Telinga sebelah kiri berdenging.

antara jam 06-07 pagi bermakna akan ada tamu yang menguntungkan dalam waktu dekat.

antara jam 07-08 pagi bermakna akan melakukan perjalan jauh dalam waktu dekat.

antara jam 08-09 pagi bermakna akan kedatangan keluarga dekat antara jam 10-11 pagi
bermakna akan selamat dalam perjalanan yang akan dating.

antara jam 11-12 siang bermakna akan kedatangan keluarga dari seberang lautan.

antara jam 12-13 siang bermakna akan terserang penyakit dalam waktu dekat.

antara jam 14-15 siang bermakna akan kedatangan tamu.

antara jam 15-16 sore bermakna akan bepergian jauh baik beurusan usaha atau urusan kerja, sendiri atau bersama-sama.

antara jam 17-18 sore bermakna dalam waktu dekat akan mendapat keuntungan besar bagi usaha dagang yang dirintis dan dalam waktu dekat akan naik pangkat bagi pekerjaan.

antara jam 19-20 malam bermakna akan menerima pernyataan cinta dari seseorang dalam waktu dekat ini.

antara jam 21-22 malam bermakna akan menerima undangan perkawinan dari teman dekat.

antara jam 22-23 malam bermakna akan kedatangan pencuri.

antara jam 23-24 malam bermakna akan menghadapi penghalang dalam mengurus perkara yang sedang dihadapi.

antara jam 00- 01 dini hari bermakna semua cita-cita akan yang direncanakan akan segera tercapai.

antara jam 01- 02 dini hari bermakna akan menerima kabar yang sangat menyengkan.

antara jam 02- 03 dini hari bermakna akan ada perseturuan dalam keluarga.

antara jam 04- 05 pagi hari bermakna and akan mendapat usaha pekerjaan baru.

antara jam 05- 06 pagi hari bermakna akan ada musyawarah dan mufakat dalam setiap persoalan yang dihadapi oleh anda sebagai jalan keluarnya.

www.primbon.com
Selengkapnya.....

4.10.08

Sedikit Tips Membersihkan Komputer


Komputer Bersih Komputer Sehat

Kebersihan pangkal Kesehatan.

hal yg sama berlaku untuk komputer anda.
kalo pc tua anda belakangan ini mulai rewel dan 'bertingkah' aneh... kadang2 ram tidak detek. kadang2 cdrom hilang... kadang2 gak mau boot... kadang2 reset 5x baru bisa masuk windows...
mungkin saja disebabkan pc anda tidak betah dgn kondisi kotor didalamnya.
ini cara membersihkan pc anda supaya tidak rewel...


alat2 yg diperlukan:
kuas
penghapus pensil
kalo ada... vacum cleaner dan/atau semprotan udara
obeng
langkah2 membersihkan pc anda:
buka baut2 casing (pake obeng kali ye...) supaya anda bisa akses langsung isi perut pc anda. (peringatan! kalo masih garansi, membuka casing akan membatalkan garansi pc anda!)
buka baut2 di card pci dan cabut semua card pci
cabut semua kabel2 dari motherboard
cabut ram/memory
(optional, experience user only!) cabut cpu dari motherboard. buka baut2 motherboard dari casing. cabut motherboard dari casing. (anda harus mengerti pemasangan kembali cpu ke motherboard karena kesalahan pemasangan cpu akan merusak cpu dan motherboard anda!)
cabut hdd, cdrom, floppy, dsb...
mulai bersih2... nyalakan vacum cleaner, sedot semua debu. gunakan semprotan untuk lokasi yg sulit diakses vacum cleaner. bisa juga gunakan kuas.
gunakan hapusan pensil untuk membersihkan pins/konektor ram dan vga/pci card.
pasang kembali semuanya pada posisi semula.
nyalakan! banyak masalah dan kerewelan pc akan lenyap dan pc anda kembali bersih dan nyaman... anda pun lebih nyaman bekerja dgn kondisi lebih bersih
walaupun pc anda selalu berada didalam ruangan tertutup dan ac, anda akan terkejut melihat isi perut pc anda yg penuh debu.....

silakan mencoba!


Selengkapnya.....

Ngereh Leak Desti di Bali


Ngereh artinya proses perubahan wujud. Leak Desti adalah perwujudan ilmu leak tingkat paling bawah yaitu perwujudannya bisa berbentuk binatang yang namanya Lelakut yaitu sejenis kadal yang besar berbadan hitam lorengloreng, berkepala manusia berwajah seram dan hitam, rambutnya terurai, taringnya panjang, giginya runcing, matanya lebar dan menyala keluar api berwarna hijau, mempunyai ekor panjang warnannya loreng hitam pudih.

Leak Desti ada juga berbentuk binatang yang namanya Bebae yaitu sejenis binatang kambing berbulu putih mulus, mempunyai telinga panjang menjulur kebawah sampai menyentuh tanah. Leak Desti ini sasarannya adalah orang-orang yang penakut sehingga kalau orang yang ketakutan ini melihat leak Desti maka ia akan lari terbirit-birit dan bisa terjatuh dan pada saatjatuh itulah maka leak Desti ini akan menyerang dan akan mengisap darah orang yang terjatuh tadi. Disamping orang yang ketakutan juga bisa disasar anak-anak kecil terutama bayi-bayi sehingga bayi-bayi itu bisa menangis terusmenerus dan tidak mau menyusu pada ibunya dan lama-lama sampai anak kecil tersebut jatuh sakit, Leak Desti ini di Bali ada penangkalnya yaitu melalui orang-orang Wiku yaitu orang yang sudah menguasai ilmu pengobatan yang disebut ilmu Usada Bali. Leak Desti di Bali dari jaman dulu kala sudah menjadi fenomena yang tak pernah sirna dimakan jaman, keberadaannya dari dulu menjadi momok yang menakutkan masyarakat.
Pada Jaman Raja Udayana yang berkuasa di Bali pada abab ke 16, ada seorang Abdi Kerajaan yang bernama I Gede Basur yang rumahnya ada di salah satu Desa di Daerah Pengunungan.
Pada waktu I Gede Basur masih hidup pernah menulis buku lontar Pengeleakan dua buah yaitu Lontar Durga Bhairawi dan Lontar Ratuning Kawisesan. Lontar ini memuat tentang tehnik-tehnik Ngereh Leak Desti.
Adapun Tehnik Ngereh Leak Desti tersebut adalah sebagai berikut :
Dalam ajaran agama hindu mengenal tiga kerangka Dasar yaitu Tatwa, Etika, Upakara. Jadi walaupun menjalankan ilmu
pengeleakan mereka tetap melaksanakan tiga hal yaitu :
a. Tatwa berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan harus menyadari tentang ajarannya.
b. Etika berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan pasti akan melaksanakan mengenai tehnik-tehnik tingkah lakunya.
c. Upakara berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan sudah tentunya melaksanakan upakara-upakara seperti menghaturkan sesajen (banten dalam bahasa bali) sebagai sarana upakara.
Sebelum Ngereh (proses perubahan wujud) menjadi Desti, orang yang menjalankan pengeleakan terlebih dahulu melaksanakan beberapa tahapan kegiatan dengan melakukan berbagai permohonan. Adapun tahapan-tahapan kegiatan ngereh tersebut adalah sebagai berikut :
a. Memasang pasirep yaitu mengeluarkan ilmu kesaktian agar semua mahluk hidup yang ada di sekitarnya semuannya tertidur lelap.
b. Mencari tempat ngereh yaitu mencari tempat yang paling strategis dan aman seperti misalnya di Kuburan, pada perempatan jalan, atau bisa di sawah yang penting tempat tersebut sepi.
c. Mempersiapkan upakara berupa sarana banten yang berkaitan dengan ilmu pengeleakan.
d. Melakukan permohonan-permohonan agar proses ngereh dapat berlangsung sesuai dengan yang diinginkan kepada Tuhan dalam segala bentuk menifestasinya yaitu :
Pertama mohon kepada yang bernama Butha Peteng untuk memagari tempatnya agar siapa yang lewat supaya tidak melihat, dilanjutkan kemudian dengan memasang ilmu pengreres agar yang lewat menjadi ketakutan.
Kedua mohon kepada yang bernama Butha Keridan agar pengelihatan orang bisa terbalik yaitu yang di atas bisa terlihat di bawah.
Ketiga secara berturut-turut mohon kepada yang bernama Sang Kala Jingkrak, Butha Lenga, Butha Ringkus, Butha Jengking dan terakhir mohon kepada yang bernama sang Butha Kapiragan, agar segala permohonannya bisa terkabul.
Keempat setelah proses permohonan selesai, dilanjutkan dengan kegiatan muspa (sembahyang) dengan posisi badan terbalik yang dilanjutkan dengan nengkleng (berdiri dengan kaki satu) gerjalan nengkleng mengitari "sanggah cucuk" (tempat menaruh sesajen yang terbuat dari batang bambu), sesuai dengan tingkat ilmunya dengan posisi putaran berjalan nengkleng kearah kiri. Dengan melalui ngereh tersebut diatas maka orang yang menguasai ilmu pengeleakan bisa berubah wujud sesuai tingkat ilmu pengeleakan yang dikuasainya yaitu kalau tingkat Desti maka orang tersebut bisa berubah wujud menjadi binatang yang aneh-aneh dan seram, begitulah ilmu pengeleakan yang dikuasai oleh I Gede Basur sehingga dia diantara para abdi kerajaan yang paling ditakuti dan paling diandalkan sebagai Tabeng Dada. I Gede Basur ini orangnya sangat terkenal karena kesaktiannya dengan ilmu pengeleakan desti, dan dia pernah membuat geger orang-orang desanya karena serangan leak destinya, yang mengakibatkan warga desanya menjadi sangat ketakutan tidak berani keluar malam hari karena siapa yang keluar pada malam hari akan diserang oleh leak desti yang bisa mengisap darah manusia.
Untuk lebih jelasnya tentang kisah Leak Desti I Gede Basur ceritanya adalah sebagai berikut :
I Gede Basur dalam sehari-harinya hidup sebagai abdi kerajaan udayana yaitu sebagai Tabeng Dada Kerajaan, yaitu Tabeng artinya pelindung dan dada artinya dada pada tubuh manusia. Tabeng Dada ini adalah sejenis Pasukan Khusus Kerajaan yang tugasnya melindungi Raja apabila ada marabahaya.
I Gede Basur ini punya putra satu orang yang bernama I Wayan Tigaron yaitu merupakan putra kesayangan dan putra satu-satunya.
I Wayan Tigaron jatuh cinta pada Ni Wayan Sukasti yaitu putri dari I Made Tanu, walaupun I Wayan Tigaron ini orangnya sangat kaya, anak seorang abdi kerajaan, tetapi cintanya tetap di tolak oleh Ni Wayan Sukasti karena alasannya ia sudah punya pacar yang barnama I Nyoman Tirta yaitu seorang pemuda tampan dan bijaksana, karena cintanya ditolak oleh Ni Wayan Sukasti, maka I Wayan Tigaron sangat marah dan hal ini disampaikan kepada orang tuanya. I Gede Basur selaku orang tuanya sangat sayang pada anaknya dan menyarankan kepada I Wayan Tigaron agar mencari dan mencintai gadis lain karena di desanya banyak juga gadis-gadis cantik yang tidak kalah cantiknya dengan Ni Wayan Sukasti. Dinasehati oleh orang tuanya, malah I Wayan Tigaron mengancam mau bunuh diri apabila tidak bisa kawin dengan Ni Wayan Sukasti. Melihat anaknya nekad seperti itu, maka I Gede Basur terpaksa mengajak anaknya I Wayan Tegaron untuk langsung melamar Ni Wayan Sukasti ke rumahnya. Setelah sampai di rumah Ni Wayan Sukasti, maka I Gede Basur langsung di sapa oleh I Made Tanu yaitu orang tua Ni Wayan Sukasti dan menanyakan tentang maksud kedatangannya. I Gede Basur menjawab bahwa kedatangannya kesini adalah tidak ada lain untuk melamar Ni Wayan Sukasti untuk dijadikan istri I Wayan Tigaron. I Made Tanu tidak berani membuat keputusan dan soal cinta tetap menyerahkan penuh pada putrinya Ni Wayan Sukasti, sedangkan Ni Wayan Sukasti sendiri tidak keluar-keluar dari kamarnya karena ia tidak mencintai I Wayan Tigaron. Belum selesai pembicaraan I Gede Basur dengan I Made Tanu, tiba-tiba datang dua orang laki-laki yang ternyata I Nyoman Tirta bersama ayahnya. Baru yang dilihat I Nyoman Tirta datang kemudian Ni Wayan Sukasti dengan segera keluar dari kamarnya menumui I Nyoman Tirta dan menyapa dengan ramah dengan berkata kakak Nyoman baru datang dan silahkan duduk, melihat kelakuan Ni Wayan Sukasti demikian, maka I Gede Basur sangat marah karena merasa dipermalukan di depan orang yang bernama I Nyoman Tirta. I Gede Basur karena merasa dirinya sebagai abdi kerajaan yaitu sebagai Tabeng Dada Kerajaan, maka dia maunya memaksa I Made Tanu supaya menyerahkan putrinya NI Wayan Sukasti supaya menikah dengan I Wayan Tigaron. I Made Tanu tidak bisa berbuat apa-apa karena soal cinta dia menyerahkan sepenuhnya kepada putrinya, dan akhirnya Ni Wayan Sukasti menolak mentah-mentah lamaran paksa dari I Gede Basur, sehingga hal inilah yang membuat I Gede Basur menjadi marah dan penasaran dan mengancam Ni Wayan Sukasti dengan serangan desti yang membahayakan hidupnya dan I Gede Basur tanpa pamit kepada I Made Tanu langsung mengajak putranya I Wayan Tigaron pulang ke rumahnya. Apa yang menjadi ancaman I Gede Basur menjadi kenyataan yaitu pada hari ketiganya Ni Wayan Sukasti diserang desti sehingga ia jatuh sakit yaitu perutnya dirasakan sangat sakit kemudian mutah darah dan akhirnya lemas tak sadarkan diri. Ni Wayan Sukasti punya Kakek yang sering dijuluki dengan nama Kakek Wiku yaitu seorang Kakek yang menguasai ilmu pengobatan yang namanya Usada Bali (Obat Bali). Kakek Wiku ini segera membantu Ni Wayan Sukasti dengan ilmu pengobatan yang dimilikinya.
Merasa ada yang menghalagi niatnya maka Leak Desti Jelmaan dari I Gede Basur sangat marah dan berlaku beringas pada si Kakek Wiku tersebut dan menantang untuk diajak bertarung pada malam hari itu juga. Pertarunganpun terjadi pada malam hari dengan ilmu kesaktiannya masing-masing, yang mana Ilmu Kesaktian I Gede Basur lebih rendah daripada Ilmu Kesaktian Kakek Wiku sehingga I Gede Basur pada pertarungan tersebut menyerah kalah dan berjanji tidak akan mengganggu lagi Ni Wayan Sukasti. Melihat kelakukan I Gede Basur begitu mohon ampun dan mohon jangan dibunuh, maka kakek wiku tidak membunuh dan memberi ampun kepada I Gede Basur dengan catatan apabila berani usil lagi maka kakek wiku tidak segan-segan akan bertindak dan akan membunuhnya.
Dengan menyerahkan I Gede Basur, maka Ni Wayan Sukasti akhirnya sembuh seperti sedia kala tanpa diobati dan kemudian dilangsungkan dengan acara pernikahan antara Ni Wayan Sukasti dengan I Nyoman Tirta.
Demikian adanya Leak Desti yang merupakan warisan dari I Gede Basur dan sampai saat sekarang ilmu tersebut masih ada generasi penerusnya di Bali.
disadur dari : www.agnihoma.org

Selengkapnya.....